AtomicEssay

AES055: Asumsi

haegenquinstonpenulis arsip2

Asumsi adalah suatu ketidakpastian, merupakan sebuah dugaan yang diterima sebagai dasar. Asumsi sendiri, menjadi landasan berpikir karena dianggap benar. Sehingga, hasil akhirnya menjadi tidak pasti. Asumsi sendiri bisa menjadi sepenuhnya benar, bisa menjadi 80% benar, bisa pula sepenuhnya salah. Perspektif orang-orang dalam berasumsi berbeda-beda, jadi pastinya asumsi memiliki kemungkinan tidak tepat yang cukup tinggi. 

Mengapa orang-orang berasumsi? Karena ketidakpastian yang tidak terkonfirmasi, tetapi ada satu hal yang lebih diunggulkan dalam ketidakpastian tersebut, sehingga dilakukan tanpa konfirmasi tambahan. Karena tidak adanya bahan/tempat konfirmasi, perlu menebak, dan menebak dengan ketidakpastian. Padahal, dengan konfirmasi, kita mendapat sesuatu yang lebih dekat dengan kepastian. Meskipun konfirmasi tidak terjamin, tetapi pandangan orang lain bisa mendekatkan kita lebih ke kepastian, dan menjauh dari asumsi diri.

Suatu asumsi bisa berakibat baik maupun tidak. Akibat baik yang bisa ditimbulkan adalah, jika memang asumsi kita benar dengan kenyataan. Jika seperti itu, kita bisa memiliki kemampuan berasumsi yang cukup baik (jika tidak bisa mencari informasi). tetapi, jika kita masih bisa mencari konfirmasi tetapi tidak mau, malahan berasumsi. Saat yang tidak baik dalam berasumsi adalah ketika kita bisa memiliki konfirmasi kepastian dan kita tahu akan ketidakpastian asumsi yang kita buat, tetapi kita malah stick to the plan dan akhirnya berasumsi. Kalau salah, sayang sekali karena ada satu poin yang terbuang dan hilang.

Kasus aku dalam berasumsi lumayan sering. Asumsi menjadi pertimbangan, jika memang dalam beberapa momen hidupku, malah mengandalkan asumsi. Asumsi yang sering sekali aku lakukan adalah mengenai proyek (di KPB). Contohnya, asumsi bahwa teman rekan sudah membawa apa yang kita perlukan, asumsi bahwa ada kegiatan offline di sekolah, asumsi mengenai jam selesai kegiatan (jam 10-12, kira-kira). Dalam asumsi-asumsi tersebut, terkadang aku bisa benar bisa pun tidak. Padahal, aku bisa meniadakan asumsi dan mendapatkan kepastian. Tindak lanjutnya, misalnya adalah mengontak teman, mengontak grup, membuat jadwal. Namun aku berpikir 'ribet', dan akhirnya malah ribet saat sudah di tempat. Lebih sibuk mana, pencegahan atau kejadian? Tentu kejadian, dan pencegahan bukanlah apa-apa jika sudah berada dalam level standar kejadian 'kelupaan' ataupun tidak sesuai rencana asumsi.

Apa yang akan aku lakukan dalam tindak lanjut masalah asumsi ini? Aku sendiri, sebenarnya secara tidak sadar dan tidak langsung, membuat keputusan berdasar asumsi yang sangat banyak sepanjang hari. Lain kali, kalau saja aku bisa lebih sadar dalam tindakan-tindakan yang kulakukan, sehingga bisa dikonfirmasi. Meskipun terdengar konyol, misalnya konfirmasi untuk membawa tas untuk kegiatan. Konfirmasi untuk sesuatu yang nyaris pasti, tapi masih berdasarkan asumsi kita. Suatu konfirmasi pasti yang terdengar konyol bagi orang lain, menurut mereka sudah pasti. Itulah hal yang perlu kita lakukan, karena yang namanya kepastian bisa berubah. Untuk itu, dibutuhkan pengingat dan komunikasi baik.

Sebuah konfirmasi tidak serumit konsekuensi yang ditanggungnya.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES239: The Scouting of Earth Hour

Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES238: Move On

Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES237: Diriku yang Berbeda

Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…

haegenquinston20