AES056 - Alam Tercermin dalam Kita

Layaknya anak dengan orangtua, kita bisa melihat rupa-rupa alam dalam tubuh manusia. Pola bercincin dalam kayu dalam sidik jari. Darah mengalir dalam pembuluh darah, seperti air dalam sungai, bercabang-cabang dan berubah sesuai dengan datarannya. Kerutan di sudut mata seperti retakan tanah kering.
Aku pertama dikenalkan pada konsep ini saat masih kecil dulu, membaca buku anak-anak berjudul You Are Stardust. Buku ini bercerita bahwa kita semua terbuat dari bahan-bahan yang sama dengan yang membentuk bintang. Intinya, manusia terbuat oleh alam, maka manusia menyerupai alam, dan manusia adalah alam. Ini jadi ide yang begitu menarik bagiku. Aku melihat dedaunan, melihat cahaya matahari, membandingkannya dengan cahaya di mataku. Aku memandang jemari milik ibuku, melihatnya sebagai jari anak orangutan memeluk induknya, sebagai bintang laut, sebagai dahan pohon tak berujung.
Lama-kelamaan, aku mencoba mencari lebih banyak cerminan alam dalam manusia. Dan ternyata memang ada banyak. Begitu menemukan satu persamaan, muncul lebih banyak persamaan lain. Tiap hal kecil dalam alam, tiap hal kecil dalam tubuh manusia. Ketika aku mencari hal-hal ini, aku jadi lebih memperhatikan detail. Ini banyak membantuku lebih mengapresiasi betapa kompleksnya dan indahnya kita semua didesain.
Alam adalah sesuatu yang begitu rumit dan berlapis. Senang rasanya kalau menemukan identitas diriku dalam konteks ini, dan merasakan belonging, hidup dalam sebuah kesatuan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
