AtomicEssay

AES06 Pengrajin Kayu

Diki Muhammad Noorpenulis arsip2

Seorang pengrajin kayu melihat satu buah pohon miliknya yang tumbang karena angin kencang semalam. Nalurinya pun kemudian mendorong ia untuk memanfaatkan batang pohon tersebut untuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Dari berbagai ide yang dipikirkannya, dipilihlah satu buah ide yang menurut dia paling baik, yakni membuat sebuah kursi panjang yang bisa memuat 4 orang untuk duduk. Rencananya kursi tersebut akan ia simpan di taman sebrang rumahnya.

Ide bentuk kursi yang ia pikirkan kemudian dituangkannya pada selembar kertas. Guratan demi guratan ia buat di atas kertas tersebut. Berbagai ide bentuk kursi muncul dari hasil pengalaman, tontonan di layar televisi, majalah, hingga dari gagasan ’liarnya’. Hingga akhirnya jadilah bentuk kursi yang menurut dia paling unik dan menarik. Kemudian dengan berbagai perlengkapan bertukangnya, ia mulai memotong batang kayu menjadi bagian-bagian kecil sesuai dengan rancangan kursi yang dibuatnya. Perlengkapan bertukangnya pun cukup lengkap, dari yang penggunaannya secara manual, sampai alat yang bermesin dengan memanfaatkan energi listrik. Tapi entah mengapa dia lebih senang menggunakan peralatan yang manual. Mungkin ada sensasi tersendiri yang tidak bisa kita rasakan langsung. Akhirnya setelah berjam-jam bekerja, kursi buatannya pun jadi. Ia pun tampak puas dengan bentuk kursi buatannya. Hal ini tampak dari senyumannya yang lebar saat memandang kursi tersebut dari kejauhan.

Cerita di atas merupakan gambaran sederhana tentang pencipta dan hasil ciptaannya. Hasil ciptaannya tidak akan tahu persis tentang tujuan ia dibuat. Yang lebih tahu dan paling mengerti tujuan tersebut yakni pencipta itu sendiri. Hal ini pun berlaku pada kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Tuhan lah yang paling tau dan paham tujuan kita diciptakan dan tinggal di semesta ini. Bagaimana jadinya kalau kita sebagai manusia memiliki persepsi masing-masing tentang tujuan kita diciptakan, seolah-olah paling tahu melebihi Penciptanya? Ketika pertanyaan tentang tujuan kita diciptakan muncul, mungkin ini sebagai awalan kita perlu refleksi dan mencari tahu ke sumber yang paling tepat, bukan berangkat dari sebuah praduga atau persepsi.

Komentar (1)

Andy Sutioso

Keren ini kak Diki tulisannya. Nuhun pisan.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES#021 Menemukan Bintangku (Catatan dari Selametan TP-21)

Selametan Smipa tanggal 16 Agustus 2025 lalu mengusung benang merah tema TP-21 ini yaitu spiritualitas. Terus terang elemen spiritualitas ini yang membuatku resonan ketika pertama kali mengenal Smipa, 15 tahun silam ketika aku mengundang kak Andy sharing di SBM ITB, meski saat itu pemahamanku tenta…

Murdeani221
AtomicEssay

AES815 WHO AM I?

Who Am I? Siapakah saya? Pernahkah kita betul-betul merenungkan hal ini? Kalau kita bicara tentang eksistensi manusia, tidakkah pertanyaan ini adalah pertanyaan yang terpenting? Sebelum lebih jauh, punten saya simpan satu video lagi di bawah ini. Tulisan-tulisan saya belakangan ini memang jadi repo…

Andy Sutioso11
AtomicEssay

AES771 Tentang KeIlahian Manusia

Beberapa waktu lalu mendapat kabar tentang buku yang baru saja diterbitkan oleh Gregg Braden. Salah satu tokoh - saintis yang menurut saya pemikiran-pemikirannya sangat holistik. Gregg banyak sekali meneliti tentang peninggalan peradaban-peradaban kuno, ancient civilizations - di seluruh penjuru du…

Andy Sutioso00