AES060 - Tari, Kebutuhan, dan Burung

Hari ini, Bude Ratna mengajarkan kami tentang konsep-konsep dasar dari tarian nusantara. Aku sudah lama menantikan Bale Ajar seperti ini, sebab waktu kami dapat materi yang sama di K9, kurasa tidak sedalam yang sebenarnya bisa digali. Kali ini, kami banyak membahas sisi ritualistik dari tari, dan perannya yang besar dalam kehidupan masyarakat adat.
Tarian memang sejak awal muncul pada manusia atas dasar-dasar ritualistik. Tari dijadikan cara berterimakasih, berdoa, menolak bala, menyediakan ruang. Biasanya muncul tarian-tarian itu sangat berkaitan dengan apa yang dipercayai dan dianut oleh masyarakat adat itu. Kebanyakan ritual berkaitan dengan bumi dan sumber pangan, maka banyak pula upacara adat yang menggunakan tari: Seren Taun, misalnya.
Menarik bagiku untuk menilik asal-usul tari. Segala sesuatu yang diciptakan manusia, pasti diciptakan karena ada kebutuhan. Tapi apa kebutuhannya? Mungkin kepuasan spiritual. Tapi kenapa medianya harus berupa tari? Mengapa ada budaya-budaya yang mengasah spiritual dengan sorak atau doa, kesyahduan atau perayaan, musik atau tari?
Katanya, asal-mula musik itu bukan dari musik, tapi dari ritme. Saat orang sedang bekerja, mengangkut sesuatu yang berat bersama-sama, mereka mulai membentuk sebuah panggilan untuk menyeragamkan langkah dan tarikan, biasanya sesuatu seperti hei-ho atau lainnya. Dari sinilah muncul pengertian akan ritme, lalu perlahan menjelma jadi musik. Tari adalah sesuatu yang sangat berkaitan dengan ritme. Tapi dari mana manusia bisa menemukan bahwa badan mereka bisa digerak-gerakkan dengan indah, dengan makna?
Atau mungkin mereka belajar dari alam? Dari burung-burung yang menari untuk mencari pasangan, dari siulan burung di pagi hari. Kalau dipikir, burung menjadi representasi seni yang sangat nyata. Begitu banyak yang mampu mereka lakukan: menyusun sarang, menyanyi, menari. Apakah mereka menganggap ini sebagai budaya? Sekedar sebagai bagian dari kebutuhan hidup mereka? Mungkin saja yang manusia anggap sebagai seni dan budaya, juga sebenarnya hanya sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti cara burung bertahan hidup dengan berbagai cara yang bisa kita anggap sebagai seni. Kalau begini jadi banyak lagi pertanyaan. Apa itu seni? Apa itu tari? Apa itu ritual? Kata siapa tari itu seni, itu ritual? Mungkin seni bukanlah seni. Mungkin seni hanyalah bagian dari cara manusia bertahan hidup.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
