AtomicEssay

AES061 - Mendefinisikan Manusia 1: Spesies

Ara Djatipenulis arsip2

Hari ini aku menonton video yang sangat menarik dari Howtown, sebuah channel Youtube relatif baru yang membahas berbagai hal yang berkaitan dengan sains. Yang aku suka dari Howton adalah bahwa mereka benar-benar menggali dalam: yang dibahas bukanlah semata-mata kenapanya, tapi bagaimana ilmuwan bisa sampai pada konklusi-konklusi itu. Ini benar-benar membuka mata kita pada segala lapisan riset dan eksperimen yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah penemuan, yang selalu bisa didalami lagi dengan adanya teknologi baru sekian tahun kemudian.

Video ini membahas tentang teori-teori bahwa manusia, terutama ras-ras Eropa dan sebagainya di luar Afrika, memiliki nenek moyang Neanderthal. Awalnya, teori ini banyak mengundang skeptisme dari ilmuwan-ilmuwan dahulu. Ada dua kubu: antara ada satu nenek moyang yang sama yang kemudian terpecah menjadi Homo sapiens dan Neanderthal; atau Neanderthal adalah nenek moyang kita.

Aku ingat saat SD dulu, kami belajar tentang manusia purba. Aku mencoba menghafalkan urutan spesies-spesies manusia purba (dari buku Life Science di perpustakaan yang kalau dipikir lagi sepertinya sudah 40+ tahun outdated). Aku kesal karena tidak ada satu pun penjelasan yang linier. Tahun-tahun kemudian, semakin aku teredukasi, semakin aku paham bahwa sesuatu seperti itu memang tidak bisa kita pandang secara linier.

Video yang kutonton tadi menjelaskan bahwa para ilmuwan sekarang sudah tidak banyak menggunakan istilah ‘spesies’ sebagai sesuatu yang mutlak. Sulit untuk mendefinisikan spesies. Biasanya caranya adalah dengan membandingkan bentuk genome, tapi sulit untuk membedakan yang mana yang memang perbedaan individu dan yang mana perbedaan spesies. Karena segala keabu-abuan ini, kita hanya bisa mengeneralisasi dan memasukkan ke dalam kotak-kotak yang tidak sempurna.

Ilmuwan menemukan berbagai hal yang membuktikan bahwa Homo sapiens dan Neanderthal pernah hidup bersama dan saling berkembang biak. Mereka membandingkan bentuk-bentuk genome yang ditemukan dari periode dan lokasi yang sama. Mereka mengamati alat-alat pertukangan yang khas dari tiap ‘spesies’, yang berdasarkan lokasinya dalam lapisan tanah, hidup dalam waktu berdekatan. Yang paling menarik adalah asap api unggun yang terperangkap di dalam kristal di atap gua. Ketebalan kristal bisa menunjukkan waktu yang lewat, dan garis-garis hitam tempat abu terperangkap bisa menunjukkan kapan saja ada yang tinggal di dalamnya. Waktu-waktu ini punya overlap antara Neanderthal dan Homo sapiens.

Jadi, memang terbukti, transisi antar spesies bukanlah sesuatu yang bisa diberi garis batas yang jelas. Manusia purba saling bersinggungan, saling berkembang biak, selama ribuan tahun. Lantas, hanya spesies tidak akan bisa mendefinisikan manusia.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10