AES061 Sahabatku

Hari ini aku ingin berbagi cerita tentang sahabatku sejak kuliah. Namanya koyo. Sahabatku yang satu ini sering dipandang sebelah mata oleh orang lain. Banyak stigma yang beredar mengenai dia dari mulai temannya hanya lansia, baunya tidak sedap, dan lain-lain. Banyak yang menganggap remeh sahabatku ini. Saat digunakan pun letaknya akan disembunyikan padahal apa bedanya dengan plester luka sama-sama lembaran kain yang menempel dikulit.
Sahabatku ini selalu menemaniku disaat aku sakit. Sakit perut kram menstruasi dia hadir, pegal-pegal salah posisi tidur dia hadir, kaku leher sampai pundak terlalu lama mengerjakan tugas dia hadir. Banyak orang yang hadir disaat kita senang, saat kita sedang membutuhkan koyo lah yang hadir menemani.
Termasuk Fajrin, dia kerap mengolok-olok katanya aku bau nenek-nenek, badanku lemah karena kerap menempel koyo di daerah yang tidak tertutup baju. Tapi aku diam saja, tidak membalas olokannya biar saja dia tidak tahu sahabatku ini sangat sakti. Hingga suatu saat dia baru mengaku padaku pegal-pegal yang dia rasakan hilang karena memakai koyo bahkan dia sampai menempelkan 8 lembar dalam semalam, keesokan harinya dia bangun dengan terkagum karena sakitnya hilang! Dan meminta maaf karena sudah mencuri koyo, katanya malu kalau ketahuan aku, yang kerap diolok-olok karena bau. Akhirnya aku tahu kemana perginya sahabatku itu yang cepat sekali habis. Kupikir Sei yang pakai karena dia juga suka pakai koyo, aku yang mengajari Sei dan dia langsung suka dengan sahabat barunya tersebut. Sejak saat itu kami bertiga menjadi keluarga bukan sekedar sahabat.
Komentar (2)
Hahaha... saya tidak membenci koyo, tapi setiap kali pakai, kulit saya iritasi dan disekelilingnya bengkak. Jadi cukup obat gosok yang bau kakek-kakek :)
begitulah pak yang namanya persahabatan cocok-cocokan! hahaha
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES158 Santai
Bukan kebetulan. Katanya memang semua sudah terencana apik. Saking halusnya sampai terlihat seperti sebuah kebetulan. Ternyata sudah tepat 6 bulan aku terakhir menulis. Waktu itu juga sedang santai, pagi menjelang siang saat rutin pagiku sudah selesai dan entah kenapa rasanya santai. Aku mulai memb…
Sanya32
AES157 Januari
Akhir-akhir ini cuaca memang syahdu. Suhu udara menurun, angin mengencang, hujan menderas dan langit menggelap. Matahari yang sebelumnya terasa terik dan perkasa perlahan melembut bersembunyi di balik awan tebal yang siap menghadang cahayanya seakan berujar, “Seterang apapun cahayamu ada saatnya ka…
Sanya21
AES156 Hujan
Sudah beberapa hari belakangan siang menjelang sore, cahaya cerah matahari perlahan tertutup awan. Lewat tengah hari hawa menjadi lebih dingin, langit kelabu, seakan sore datang lebih cepat. Tak berapa lama hujan datang, intensitas nya tak menentu bisa gerimis kecil atau hujan lebat. Aku sudah lama…
Sanya20