AES062 - Akhir Hayat Laron

Musim laron selalu datang dulu, saat aku kecil, ditunggu dengan takut-takut tapi juga senang. Malam-malam, mereka berkerumun di jendela, menabrak-nabrak kaca. Seberapa erat jendela ditutup, ada saja yang berhasil menyelip masuk. Mereka berterbangan memutar-mutar di atas meja makan. Hanya satu tujuan mereka: lampu. Cahaya. Keagungan. Badan rapuh mereka terbakar, sayap tipis mereka tanggal, dan mereka jatuh ke lantai dalam gumpalan bergeliat dan gosong.
Malam-malam musim laron selalu menakutkan bagiku. Kapanpun mereka bisa jatuh ke dalam piring, ke atas rambut. Kaki mereka yang kotor, mata lubang jarum mereka. Tapi yang paling menakutkan bagiku adalah melihat mereka perlahan mati. Mereka berlari putar-putar. Bersayap, mereka agung dan gagah. Tanpa sayap, mereka telanjang, mereka tersesat. Hanya satu tujuan mereka: cahaya. Keagungan.
Katanya, laron terbang untuk mencari betinanya. Di musim kawin, puluhan laron jantan berlomba-lomba terbang tinggi hingga bisa mencapai satu ekor laron betina. Semuanya gugur, kecuali satu. Tak lama setelah kawin, sayapnya juga akan tanggal, dan dia juga akan gugur. Tapi kenapa mereka mengejar lampu? Apakah cahaya itu, keagungan itu, terlihat seperti seekor betina? Apakah mereka tahu mereka akan terbakar? Apakah mereka tahu akan jatuh, akan kehilangan sayap?
Hidup mereka pendek, dan berakhir begitu saja. Kebanyakan akan mati dalam kegagalan. Mereka yang mati dalam keberhasilan, hanya sempat sebentar menikmatinya. Akhir hayat mereka penuh dalam kebingungan. Mungkin mereka merasa dikhianati oleh sang cahaya.
Malam-malam musim laron selalu menakutkan bagiku. Tapi pagi-pagi musim laron selalu kutunggu. Aku berjalan mengitari rumah, mengumpulkan sayap-sayap keemasan laron, meracik ramuan dan menebarkan bubuk. Semua ketakutan malam sebelumnya, tergantikan dengan kebahagiaan. Semua laron yang berlomba-lomba, gagal maupun berhasil, pada akhirnya tidak ada yang ingat. Sayap para laron gagal, sayap para laron pemenang, semua bercampur jadi satu, bertebaran asal-asalan di lantai. Buat seorang anak kecil, memungut sayap laron keemasan, semua sayap itu sama saja.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
