AtomicEssay

AES064 - Jeruk Tak Tampak Busuk

Ara Djatipenulis arsip2

Matahari panas menyilaukan jendela mobil. Yang tampak hanya kepala-kepala orang bermotor dan padat bangunan di jantung kota Bandung. Aku duduk di kursiku di bagian belakang, karena masih terlalu kecil untuk duduk di kursi depan. Pakaianku mungkin masih seragam TK, dengan kainnya yang oranye hangat, sewarna dengan jeruk dalam genggamanku.

Waktu itu, tiap minggu, aku pergi ke rumah bukan-lewat-darah-tapi-setara-dengan-keluargaku untuk kursus piano dengan setara-dengan-pamanku. Mereka keluarga yang sangat murah hati. Tiap kali aku pulang, aku dibekali dengan sebuah jeruk atau majalah Bobo. Tapi selalu ada jeruk.

Aku selalu bosan dapat jeruk. Aku tidak suka jeruk (sekarang suka). Tapi selalu diberikan jeruk, dan mau tidak mau, aku harus menerima, agar sopan. Kalau lain kali aku minta pisang saja, boleh tidak? Kata ayahku, itu tidak sopan. Aku tidak mengerti kenapa. Padahal, kalau aku minta dibelikan pisang saja, itu akan lebih menguntungkan: murah, mereka bisa menikmati, aku juga bisa menikmati. Tapi aku tidak pernah minta diberi pisang, karena tidak sopan.

Satu-satunya yang kusukai dari jeruk adalah teksturnya. Lembek-lembek dan empuk, tapi kulitnya tebal. Aku menancapkan kukuku ke dalamnya, menatap cekungan kecil yang kuhasilkan, merasakan air jeruk merembes keluar, membawa dengannya aroma samar sitrus. Ayahku selalu memarahiku. Katanya, kelihatannya seperti busuk. Kataku, ‘kan kenyataannya dia tidak busuk. Katanya kalau orang dewasa lihat itu, dia akan sangka ini busuk.

Jadi aku tidak lagi bisa menancapkan kukuku ke dalamnya. Jeruk itu harus selalu dalam kondisi prima, sebab akan diberikan kepada siapapun orang dewasa yang kita temui setelah dari rumah bukan-lewat-darah-tapi-setara-dengan-keluargaku. Bukan hanya aku yang bosan dengan jeruk. Ayahku juga bosan, tiap minggu makan jeruk. Ibuku juga bosan, tiap minggu makan jeruk yang ayahku tidak mau karena bosan. Siapapun orang dewasa yang kemudian menerima jeruk-tidak-tampak-busuk itu, mungkin juga bosan.

Komentar (1)

leoamurist

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10