AES064: Kerapian
'Nak, jangan lupa beresin ranjangnya!', teriak seorang ibu, berseru kepada anaknya yang malas menjaga kerapian kamarnya sendiri.
Cukup sering, kita sendiri diberi tahu dan diingatkan, oleh orang lain, mengenai kerapian dan kebersihan hal-hal yang menjadi milik kita sendiri. Ibaratnya, seseorang punya banyak rumah besar sekaligus. Tidak mungkin ia, bisa terus konsisten merawat semuanya itu, setiap sudut, dengan konsisten sendirian. merawat sebuah rumah secara sendirian saja sudah lumayan repot, apalagi banyak.
Terkadang, kalau kita bicara mengenai kerapian dan kebersihan, hanya orang-orang yang niat dan yang memprioritaskan kerapian, yang sudah rutin merawat badannya. Misalnya, artis Korea terkenal. Ia memprioritaskan kebersihan dan kerapian hal-hal di sekitarnya, termasuk tubuhnya sendiri. Karena yang penonton dan fans-nya lihat adalah penampilan dan visual-nya. Entah mau melalui proses operasi plastik yang kontroversial, tapi semua niat itu dilakukan agar penampilannya di depan orang banyak baik.
Kerapian ranjang dalah salah satu contoh kasus paling nyata mengenai kerapian ini. Dahulu, aku sendiri selalu rutin dalam membereskan ranjangku sendiri. Setiap pagi, sudah menjadi kebiasaan untuk merapikan barang-barang yang ada pada kamarku. Bahkan barang-barang yang ada pada atas lemari pun ku minimalisir, sehingga tidak 'bala'. tentu ada manfaatnya bagiku sendiri, selain nyaman dalam penyimpanan barang dan juga pemakaian, menjaga kerapian kamar sendiri pun sangat baik agar tidak ada binatang yang tak diinginkan, misalnya kecoak, cicak, nyamuk, dan sebagainya.
Namun, aku sendiri saat ini tidak terlalu rutin dalam menjaga kebersihan ranjang dan kamar sendiri. Faktor penyebabnya adalah, kebiasaan, prioritas lain, dan kemalasan sendiri. Mungkin, saat ini aku tidak terlalu merasa beberes kamar itu sedang penting, daripada beberapa saat lalu.
Aku juga seringnya beberes secara besar-besaran, dan setelah membereskan secara besar-besaran, pasti sudah merasa rapi. Dan tidak dirawat rutin, kalau merasa sudah rapi. Karena itu, maka aku tidak membereskan kamar secara rutin, dan budaya tersebut terus terbawa-bawa hingga saat ini. Dampak buruk yang bisa ditimbulkan dari budaya ini, adalah kesulitan untuk memulai kembali budaya beberes yang baik. Selain itu, aku juga seringkali tidak merasa nyaman dengan penempatan barang-barang dalam kamarku. Secara penampilan visual, ketidakrapian mengganggu kalau kita menyadarinya. Kalau kita menjalani hidup dengan menganggapnya biasa-biasa saja, standar kita akan turun. Kalau kita menolerir kamar kita berantakan, maka ruginya di kita sendiri.
lebih baik ada usaha tambahan agar hal-hal bisa rapi dan bersih, jangan hanya asal dan malas. Aku sendiri juga ikut belajar, bahwa mungkin hal seperti ini tidak mudah, tetapi bisa mulai diusahakan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES239: The Scouting of Earth Hour
Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…
AES238: Move On
Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…
AES237: Diriku yang Berbeda
Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…
