AES065 - Tak Bisa Direplikasi

Ada sesuatu yang begitu istimewa rasanya, saat orang-orang berkumpul bersama untuk menonton sebuah lomba: sedih dan senang, bersama-sama. Rasa solidaritas dan kebanggaan yang tidak bisa direplikasi, tidak bisa dirasakan jika kita tidak berada dalam momen itu. Sebuah keteguhan bahwa, kalah atau menang, kita tetap akan memegang kuat dukungan kita terhadap tim kita. Rasa ini tetap sama, baik saat duduk di pinggir lapangan rumput saat lomba 17an, maupun menonton lewat layar pertandingan di olimpiade.
Bulan ini, bulan DBL, aku mengalami rasanya menonton sebagai pihak netral. DBL menjadi pusat anak-anak SMA di Bandung, baik yang ikut bertanding maupun tidak: pembicaraan teman-temanku di mana-mana selalu berputar balik ke topik DBL. Beli tiket di mana, nonton yang jam berapa, siapa tim yang terlihat menjanjikan. Aku sebelumnya tidak pernah begitu tertarik menonton pertandingan basket. Tapi, di sini, ada aspek perasaan semangat dan kebanggaan itu.
Di tengah lautan seragam sekolah, semboyan, sorakan, spanduk; kami tampak menonjol dan asing. Kami tidak punya kebanggaan yang sama, tidak punya satu sisi yang akan kami dukung habis-habisan. Kami hanya ada di situ karena diajak teman, misalnya, atau ingin ikut menyaksikan.
Meski begitu, seiring dengan memuncaknya pertandingan, keasingan itu serasa memudar di latar belakang. Di manapun kami duduk, tim manapun yang awalnya kami dukung, semuanya terasa seperti hidup. Ternyata, ‘rasa yang tak bisa direplikasi’ itu punya banyak nuansa, bahkan bagi seseorang yang asing tak berpihak. Untuk beberapa detik, dunia terasa begitu bergetar, begitu bergelora. Deretan penonton, dengan mata berbinar yang memantulkan cahaya lampu, sorak-sorai bergema berbarengan. Aku jadi mengerti mengapa orang begitu senang menonton pertandingan. Euforianya memang sulit ditiru, dan bisa dinikmati dalam berbagai cara.
Komentar (1)
kalau yang di lapangan, rasanya gimana ya..
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

