AtomicEssay

AES066 - Melebur dengan Anggun

Ara Djatipenulis arsip2

Bulan Juni, nyaris sedekade yang lalu, angin membelai rambutku yang tipis, desir ombak melatarbelakangi matahari. Aku menyusuri garis pantai. Aku senang pergi ke pantai. Pantai seperti tempat berlabuhnya begitu banyak perbatasan. Antara langit dan laut, antara laut dan pasir, antara pasir dan tanah gersang. Aku selalu penasaran mencari di mana titik transisi, yang membedakan antara satu hal dengan hal lain. Ada perbatasan yang punya garis batas yang keras dan yakin, seperti garis cakrawala. Ada juga yang saling melebur, perlahan-lahan, seperti fungsinya muara.

 Tiap malam, ketika kesulitan tidur, aku meraba-raba mencari perbedaan antara kulit kepala yang kasar dan kulit wajah di dahi. Aku mencari transisi antara kulit dan merah bibir. Aku mencari perbatasan antara bagian bantal yang dingin dan yang hangat. Sampai sekarang, aku mengamati matahari terbenam dan terbit, mencari titik balik persis ketika ribuan warnanya itu tercampur dengan semburat malam.

 Aku tidak tahu kenapa aku begitu terobsesi dengan perbatasan. Ada sesuatu yang begitu romantis darinya. Mungkin istilah yang tepat adalah fleeting: tak tertangkap, tak terraba, begitu perlahan dan sebentar dan tidak permanen. Ketika kita melihat rupanya di awal, dan membandingkan dengan rupanya di akhir, ada bagian kosong yang ingin kita isi. Itulah yang memikat dari perbatasan.

 Mungkin juga aku menyukainya karena, sampai batas tertentu, aku merasa familier dengannya. Aku tinggal di perbatasan Bandung-Cimahi, sesuatu yang menyenangkan tapi juga membingungkan saat mengisi formulir.

 Tapi, juga, perbatasan terkadang terasa nanggung. Kalau berada di dua kutub yang terlalu berbeda, kalau tidak melebur dengan anggun. Mungkin sisi inilah yang lebih ada resonansinya untukku. Aku seringkali merasa seperti aku kurang jago sesuatu untuk disebut jago, kurang menyerupai sesuatu untuk menjadi contoh. Aku terlalu Tionghoa untuk jadi Jawa, tapi terlalu Jawa untuk jadi Tionghoa; aku lahir terlalu awal di tahun untuk lahir di tahun itu, aku terlalu pendek untuk jadi tinggi tapi terlalu tinggi untuk jadi pendek. Aku ingin melebur dengan anggun.

Komentar (2)

Andy Sutioso

Nice one Ara

leoamurist

uhuy.. memang, bebas itu adalah soal menentukan batas

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10