AtomicEssay

AES067: Kotak pemikiran

haegenquinstonpenulis arsip2

Berpikir dalam kotak, adalah pemikiran yang terbatas dan hanya bertumpu pada satu sudut pandang ataupun pemikiran. Sehingga, ide dan pemikiran yang seseorang keluarkan itu cenderung tertutup dan terbatas. Dalam hal berpikir dalam kotak, ada standar dan asumsi yang kita terapkan, yang sebenarnya tidak harus/perlu begitu. Misalnya, kalau ngerjain tugas. Biasanya kalau disuruh menulis artikel 500 kata sesuatu, pasti terpikirnya adalah standar menulis di kertas. Padahal, kita hanya berasumsi dikerjakan di kertas, nyatanya malah sebenarnya bisa dengan mengetik. Cara-cara lain tidak biasa kita tidak pikirkan, padahal mungkin lebih mudah.

Kreativitas adalah suatu kemampuan yang tidak akan terbatas. Yang terbatas adalah pemikiran kita. Terkadang pemikiran kita juga tertutup atas logika berpikir yang biasa kita miliki. Misalnya kalau ada ide, terkadang kita tutup penuh dan tidak keluarkan. Karena kita rasa itu tidak memungkinkan, misalnya dengan biaya yang kita miliki, dengan barang yang ada. kita akhirnya memutuskan itu tidak jadi. Pertimbangan akan keraguan dan kekhawatiran situasi, bisa berpengaruh disini.

Pun juga orang yang terlalu ber-realita, pasti mereka punya pemikiran sendiri soal hal-hal yang dikerjakan, apakah ini logis, apakah itu logis, dan sebagainya. Karena terlalu memikirkan keadaan dan telah mengenal dunia yang realita, maka mereka sudah terkunci dalam pandangan tersebut. Mungkin aku juga suka merasa seperti itu, karena ada sesuatu yang aku asumsikan tidak bisa secara realita, makanya malah benar-benar terkunci dalam pemikiran tersebut dan tidak bisa berpikir di luar kotak.

Dari sudut pandang orang lain, pastinya berbeda. Ada hal yang mereka pikirkan yang tidak sampai di 'kotak' kita. Kalau kita dengar, kita baru 'ohh iya'. Dan hal tersebut pastinya terjadi terus menerus, antara memang tidak pernah terpikir dari sudut pandang lain, atau memang tidak tercerahkan.

Membuat suatu karya seni, butuh konsep. Butuh cerita, butuh ekspresi. Secara teknis pun lebih banyak daripada itu. Sehingga, kalau ingin bikin, jangan hanya bilang/berpikir 'aku kayanya mau deh, bikin kaya ginian tapi dipikirkannya nanti'. Ya sama saja bohong itu mah, karena tidak ada komitmen pasti dalam dipikirkan. Kalau dipikirkan hanya permukaan saja, pasti di tengah bingung karena pemikiran permukaan itu selalu terkotakkan. Namun, jika kita berkomitmen untuk berpikir, pasti nantinya tidak akan bingung karena sudah tercerahkan dan lebih tidak terkotakkan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES239: The Scouting of Earth Hour

Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES238: Move On

Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES237: Diriku yang Berbeda

Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…

haegenquinston20