AES069 - Jadi Muda

Matahari Jogja itu lengket, kental, mengantuk. Aku heran kenapa orang-orangnya bisa begitu segar, bermotor ugal-ugalan, tidak mau jalurnya diambil. Sementara aku, rasanya otakku meleleh ke dalam tempurungnya. Panas membuatku tidak bisa berpikir. Lengket, kental, mengantuk.
Tapi Museum Nasional Yogyakarta tidak membawa kesan yang sama. Begitu masuk gerbangnya, kami disambut oleh beringin tua nan sejuk. Angin mulai bersemilir lembut. Otakku bukan lagi sop leleh tak berguna. Tapi tetap saja, matahari tidak mau dihentikan: cahaya langit berpantul benderang pada tembok putih museum, silau, silet. Para seniman dan aktivis Jogja sudah di sana, memotret-motret, membaca judul besarnya. Pameran Seni Rupa: Patung dan Aktivisme - Dolorosa Sinaga & Budi Santoso.
Pameran ini adalah salah satu alasan utama aku ke Jogja. Ternyata memang sungguhan worth it. Tiap-tiap patung tampak dipahat penuh rasa dan niat, kaya akan makna dan protes sosial. Ada satu yang terbuat dari lelehan karet, tentang buruh di pabrik karet. Ada lagi tentang ibu yang dirobek menjauh dari anaknya, atau tentang sekelompok sosok meratapi jasad. Bu Dolo dengan semangat berlarian bercerita, suaranya nyaring berkumandang.
Patung-patung Budi Santoso meghiasi lantai atas. Terasa lebih halus, tapi juga penuh rasa. Ada sosok-sosok Kartini memegang tumpukan buku, yang kata Ibu mirip denganku karena "jidatnya gede". Banyak detail kecil yang menarik, seperti seekor patung anjing kecil di kakinya.

Tapi pusat dari seluruh pameran ini adalah talkshow di akhirnya. Kata Ayah, orang-orang di sini rata-rata datang untuk menyaksikan Rocky Gerung, seorang aktivis. Banyak sekali yang datang: tua, muda, pakaian luar biasa modis. Mereka tertawa dan bertukar pikiran, semua mengerung di pendopo, asap rokok saling bercampur, tertiup angin yang kian kencang. Dan angin memang jadi kencang! Kain yang kupakai menggembung-gembung menyenangkan. Matahari Jogja sudah jauh dari lengket, kental, mengantuk. Kini udara terasa bergemuruh dengan listrik, dengan semangat, dengan seni, dengan harap. Kupikir, betapa menyenangkannya jadi muda, jadi bergairah. Ini masa depanku, kupikir. Aku bersyukur bisa sekolah di tempat yang menuntunku, punya orang tua yang mau membuka pintuku, punya semangat yang mau mendorongku. Betapa menyenangkannya jadi muda.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
