AES07 - Perangko

[repost dari ning, 14 Juli 2021]
Beberapa bulan yang lalu, ibuku memberikan koleksi perangkonya. Koleksi ini berisi banyak sekali perangko, dari berbagai jaman dan negara. Bahkan ada beberapa negara yang sudah tidak ada lagi, karena koleksi ini dimulai ketika Ibu masih kecil. Ada perangko yang Ibu kumpulkan dan beli sendiri, ada yang dikirimkan oleh kenalan, ada yang dulu milik kakeknya.
Tadinya Ibu hanya akan memberikannya ketika aku sudah SMP, tetapi akhirnya dipercepat beberapa bulan. Aku senang sekali mengamati perangko-perangko ini, terutama karena aku tertarik dengan sejarah. Karena semua perangko ini masih berantakan, aku menyortir dan menyusunnya sesuai negara dan tanggal. Aku kebanyakan berfokus pada perangko Indonesia, yang jumlahnya sangat banyak. Yang menarik adalah perangko pra-kemerdekaan, ketika Indonesia masih di tangan Belanda. Ada cukup banyak perangko dari periode ini, ketika Indonesia disebut ‘Nederlansch-Indie’. Semuanya sudah cukup tua, bahkan ada yang ber-cap ‘Batavia Centrum’ atau ‘Cheribon’.
Tapi perangko tua tidak hanya sebatas Indonesia saja. Aku jadi mencari tahu lebih banyak tentang perangko, umumya dari internet. Ada satu video menarik tentang perangko dari Mesir yang umurnya 130 tahun. Tidak terduga, terselip di antara perangko lain milik Ibu ada perangko ratusan tahun itu!
Berhubung hari ini adalah hari kemerdekaan Prancis, aku juga menemukan hal yang menarik tentang perangko Prancis. Di kebanyakan perangko Prancis, selalu ada gambar seorang perempuan yang sama, memakai topi lucu seperti kupluk. Perempuan ini bernama Marianne. Marianne adalah lambang kemerdekaan Prancis, simbol ‘Liberté, Égalité, Fraternité’. Topi yang dipakainya adalah ‘Phrygian cap’, yang juga merupakan lambang kebebasan di Prancis dan disebut ‘Bonnet Rouge (bonet merah)’. Dulu, ketika budak-budak dibebaskan, mereka secara simbolis diberikan topi-topi ini. Bonnet rouge tidak hanya memberikan mereka kebebasan pribadi, tetapi juga kebebasan sebagai masyarakat dan izin untuk mencoblos (hanya untuk pria). Topi ini mirip dengan topi yang dipakai oleh para Smurf, mahkluk dalam seri komik Belgia yang sering kubaca dulu.
Mempelajari dan mengumpulkan perangko merupakan kegiatan yang seru. Selalu saja ada cerita-cerita menarik dari desainnya. Dengan perangko pula, kita dapat mempelajari sejarah dan budaya berbagai negara tanpa perlu pergi ke mana-mana. Sayangnya, orang sudah jarang surat-menyurat, sehingga jarang melihat perangko. Jadi, hobi mengumpulkan perangko dan minat filateli sudah mulai berkurang. Padahal manfaatnya banyak dan prosesnya juga menyenangkan.
Komentar (1)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

