AES075 Liminal Space

Pernahkah kamu menonton iklan rokok tengah malam, lalu tiba-tiba merasa suasananya agak aneh? Seperti muncul rasa nostalgia tapi juga terasa sedikit kosong dan melankolis. Ada satu istilah menarik yang bisa menjelaskan fenomena ini: liminal space.
Liminal space merujuk pada ruang atau momen transisi. Ini bisa berarti ruang fisik, waktu, atau bahkan suasana yang berada di antara dua keadaan semacam zona abu-abu. Contohnya bisa berupa koridor hotel kosong yang lampunya remang-remang, halte bus di tengah malam, atau bahkan suasana perasaan yang timbul saat melihat iklan rokok di larut malam.
Coba tonton iklan rokok ini
Rasa "aneh" atau tidak nyaman yang muncul saat berada di liminal space punya beberapa penyebab seperti waktu menonton ataupun waktu kejadian. Menonton sesuatu di larut malam menciptakan rasa keterasingan. Dunia terasa lebih sepi, lampu-lampu jalan menciptakan bayangan panjang, dan suara-suara pun jadi lebih menonjol. Pada saat ini, otak kita jadi lebih peka terhadap detail kecil, termasuk hal-hal yang biasanya terabaikan di siang hari.
Dalam konteks iklan rokok, waktu kita menonton iklan rokok pada jam 10-12 malam adalah waktu istirahat seseorang dari aktivitas, ini yang membuat kita cenderung merasakan feel tidak enak karena kita cenderung sudah lelah saat menonton tv.
Ini juga berhubungan dengan persimpangan Antar Ruang. Liminal space sering terjadi di tempat-tempat yang menjadi "transisi". Contoh, lorong sekolah kosong bukanlah ruang utama, tapi menghubungkan ruang-ruang lain. Dalam konteks iklan rokok, visual yang menampilkan lanskap kosong atau perjalanan di jalan panjang tanpa akhir menciptakan rasa ambigu, seolah kita tidak tahu harus kemana atau apa yang akan terjadi. Ini juga berpengaruh dimana posisi kita nonton, biasanya kita menonton tv di ruang tamu yang dimana itu adalah persimpangan antara kamar tidur, dapur, kamar mandi, dll.
Selain itu Musik dan Konten iklan rokok mendukung terjadinya Liminal Space. Musik dalam iklan rokok sering kali bernuansa megah tapi melankolis, seperti menyentuh sisi emosional yang dalam. Ditambah lagi visualnya sering menggambarkan kebebasan dengan nuansa nostalgia. Ini menciptakan pengalaman yang membingungkan seperti kita merasa tertarik, tapi juga ada perasaan kehilangan yang tidak bisa dijelaskan.
Liminal space memikat karena ia menyentuh lapisan emosional yang jarang kita eksplorasi. Ia berbicara tentang momen-momen transisi dalam hidup kita ketika kita belum sampai ke tujuan, tapi juga tidak lagi berada di titik awal. Ada rasa rindu, cemas, dan kedamaian yang saling tumpang tindih.
Jadi saat kamu menonton iklan rokok tengah malam dan merasa ada sesuatu yang "berhenti", ingatlah itu mungkin bukan hanya soal kontennya tapi juga otakmu yang sedang menjelajahi liminal space. Momen di antara waktu-waktu ini mengajarkan kita untuk sejenak berhenti, merasakan kekosongan, dan menikmati keanehannya.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES198 Hari Magang Pertama
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin bercerita sedikit tentang hari pertama saya magang pada tanggal 12 Oktober kemarin. Setelah melewati proses yang cukup panjang dalam mencari tempat magang, akhirnya saya sampai juga pada satu tempat bernama Pustakaccita. Rasanya agak aneh ketika se…

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

