AES075 - Wahana Air Gratis!

Langit sudah kelabu-kusam dari pagi. Hembusan angin terasa lebih dingin daripada sejuk, seperti ada di ambang antara hujan dan tidak. Dan, akhirnya, datang juga hujan itu; tiba-tiba, deras dan mendadak. Teman-teman mulai mengeluh tentang sulitnya pulang dalam cuaca seperti ini. Sayang sekali mereka tidak punya jas hujan. Kupikir, daripada kami diam tanpa kerjaan, lebih baik pergi ke Alfamart untuk membeli jas hujan yang banyak untuk disimpan di basecamp kalau ada yang perlu. Jadi, aku mengajak Dea dan Seline (karena Vania dan Tatha katanya malas dan yang lain sedang di bengkel) berangkat. Aku dan Seline berhimpitan di bawah payung merah mudaku. Dea meminjam jas hujan putihku yang bagus (meskipun dia mengeluh karena katanya bau gojek tapi menurutku bau rumput kering)!
Ternyata hujan jauh lebih deras dari yang kami kira. Lapangan parkir, teater, jalanan, semuanya banjir. Sepertinya Aa Oji kasihan, jadi dia meminjamkan payung merah yang luar biasa lebar, ditukar dengan payungku. Saat kami tiba di gerbang, Kak Leo sedang menatap kami dengan heran, tampak seperti sedang mencari cara agar kejadian ini menghasilkan AES.
Sepanjang jalan ke Alfamart, kami kegirangan. Pakaian kami basah, telinga kami terpenuhi deras rintik, tapi semua ini begitu seru. Hujan membawa solidaritas, kesenangan, membuat kami merasa seperti anak kecil yang bermain air. Rasanya seperti punya wahana air gratis. Kami terciprat air dari motor-motor ngebut, terkejut oleh geludug yang menggema. Tapi kami senang!
Kami membeli dua jas hujan. Perjalanan kami pulang sama serunya. Kami terus tertawa saat kembali masuk ke gerbang Smipa, dijumpai dengan wajah-wajah heran. Vania komat-kamit karena katanya jas hujannya terlalu mahal, tapi apa boleh buat. Setidaknya, kami jadi punya jas hujan baru! Tapi aku sebal karena jadi harus mencuci jas hujan dan menjemur payung yang basah-basah menetes. Jas hujanku, karena putih, sulit sekali dibersihkan dari lumpur. Sampai sekarang masih ada noda tanah dari bekas camping setahun lebih yang lalu. Jadi aku selalu mencucinya. Tadinya ingin kujebak Dea agar pakai jas hujanku sampai rumah dan mencucinya. Aku juga berusaha menjebak Farzan dan Kak Leo untuk memakai payungku agar nantinya mereka yang tanggung jawab menjemur. Tapi gagal semua. Sampai rumah, aku repot harus mengurus semua itu. Tapi tidak apa-apa, karena keseruan tadi sungguh-sungguh membayar itu semua. Hujan memang waktu berjeda, bersenang-senang, yang paling menyenangkan!
dari hp seline, saat kami dalam perjalanan ke alfamart

bonus! foto dari Kak Andy
Komentar (2)
Araaa, aku juga suka sekali hujan-hujanan. Nanti main hujan-hujanan bareng teman-teman KB, yuk :D
wah asyik Kakk ayo !!
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

