AtomicEssay

AES076 - Mengenal Bahasa Ibu

Ara Djatipenulis arsip2

Mangga. Mang-ga. Mengunyah, menggigit, lidah mengulum di balik mulut. Rasa manis-licin itu hampir terasa di ujung bibir ketika kita mengucapkan kata itu. Jad-wal, lompatan kecil, menggulung serapan dari pedagang asing, eksotis. I-bu. Penuh harap, penuh rindu, penuh mohon; rangkaian suku kata yang pertama keluar dari mulut yang baru. Ibu, sebuah familiaritas, sebuah tanah air, sebuah bahasa. Sesuatu yang lahir di dalam kita sebelu kita tahu dia ada.

Pandanganku akan Bahasa Indonesia tidak selalu sehangat yang kuinginkan. Waktu kecil, aku lebih banyak membaca buku berbahasa Inggris. Kata-katanya terasa lebih variatif, lebih kaya, bisa mengungkapkan jauh lebih banyak dengan bentuk-bentuk huruf yang jauh lebih unik. Bahasa Inggris adalah bahasa global, bahasa keren. Orang dewasa selalu tampak terkesan ketika tahu aku bisa Bahasa Inggris. Jadi itulah yang kuingat selalu: bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa yang lebih bagus, lebih berguna. Sementara Bahasa Indonesia, sesuatu yang begitu normal dan repetitif dan kaku. Kata-katanya terbatas, bentuk kata-katanya juga terbatas. Tidak ada kekangan grammar seperti dalam bahasa-bahasa asing. Tapi ini justru membuatnya terasa membosankan.

Maka, aku menulis dan membaca dalam Bahasa Inggris. Aku melihat dunia dalam lensa yang bukan lensa ibuku, dengan kata-kata yang bukan milikku. Dunia di sekitarku terasa kering dibandingkan dengan apa yang bisa kubaca: negara-negara yang terbebas dari monotoni tropis, dengan makanan yang tak berbumbu. Orang tuaku menyarankanku agar lebih terkoneksi dengan budaya–budayaku sendiri. Tapi, kupikir, Bahasa Inggris sudah menjadi jendela yang lebih luas. Jadi, aku cap Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Aku anugerahkan Bahasa Inggris sebagai bahasa untuk pikiran, untuk pelajaran, untuk kemajuan. Globalisasi dalam bentuk yang kurang diinginkan.

Aku dulu sering kesal ketika membaca buku-buku berbahasa Inggris, tapi tentang budaya-budaya Jepang dan Amerika Latin dan Rusia dan Thailand. Kenapa Indonesia jarang sekali disebut? Lama-kelamaan, ketika aku sudah lebih tua, aku melihat kenapa. Bahasa Inggris dan budaya Barat selalu diagung-agungkan. Aku, seperti banyak anak-anak lain, jadi merasa bahwa inilah bahasa yang lebih penting. Tapi bagaimanapun juga, bahasa ibu sudah terajut dalam diri kita.

Aku mulai melihat Bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang alamiah, yang bisa menggulung turun dari lidah dengan alamiah, yang terasa aman dan normal dan seperti rumah bagiku. Kata-katanya sederhana dan fleksibel. Tata bahasanya bisa digunakan sesuai kemauan. Dalam kesederhanaan, bahasa ini terasa siap dan dekat, tak mengintimidasi. Aku membaca tentang orang-orang yang pindah ke negara asing, yang bahasa ibunya terlupakan dan terhapus, dan membayangkan betapa sedihnya kalau itu terjadi padaku. Aku mencoba menggenggamnya, memandangnya sebagai sesuatu yang tidak kalah maju dibandingkan bahasa lainnya. Semakin digenggam, semakin terasa hangat. Dan itulah istimewanya bahasa ibu. Bagaimanapun juga, itu merupakan bagian dari identitas kita. Akan selalu ada suatu hal yang membuatnya terasa seperti rumah.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10