AtomicEssay

AES077 - Menyederhanakan yang Sederhana

Ara Djatipenulis arsip2

Aku banyak sekali membaca tulisan yang kira-kira sama: membuat hal-hal kecil dalam hidup menjadi hal yang besar, mencantelkan makna pada sesuatu yang normal, metafora yang mewah dan megah. Jenis tulisan seperti ini ada di mana-mana. Aku bisa melihat kenapa hal ini sering dilakukan – membantu kita mengapresiasi hal-hal kecil, membuat kita berrefleksi, mendorong kita untuk lebih menghargai yang di sekitar kita. Tapi juga, kalau terus-terusan, semua ini jadi aneh dan mengganggu. Semua perbandingan dan persepsi ini terasa terlalu dipaksakan, terlalu dibuat-buat untuk membuat penulis terlihat keren atau mendistraksi pembaca. Atau, mungkin, dibuat dengan alasan yang lebih tulus. Tapi tetap, saja tujuan awalnya tak tercapai. Agak sulit dijelaskan, tapi kira-kira:

Bisa saja kita membayangkan sebuah lubang dalam karung kentang sebagai portal pertama ke arah cahaya, setelah hidup gelap kentang di bawah tanah dan di dalam karung. Sesuatu yang begitu dramatis. Kita jadi melihat kisah epik di balik lubang kecil/ Masalahnya, ini terasa counterintuitive.

Tujuannya, biasanya, adalah agar hal kecil terlihat indah. Tapi bagaimana caranya? Dengan membuat hal kecil seolah besar. Bukankah itu malah akan menanggalkan makna kecil, normal, sederhananya? Sesuatu yang kecil tidak harus menjadi besar untuk menjadi indah. Lubang di karung kentang itu hanyalah lubang di karung kentang. Dia bisa hidup sebagai dirinya sendiri, tanpa perlu didefinisikan ulang, tanpa harus menerima metafora yang dijahitkan paksa kepadanya.

Bukan berarti aku tidak suka mengarang cerita untuk hal-hal sehari-hari. Aku melihat bekas serutan pensil sebagai kipas, atau daun yang robek sebagai veteran perang. Aku menikmati bermain-main dengan ini. Duniaku jadi lebih berwarna. Tapi ada juga saat-saat di mana aku melihat matahari dan menghargainya dengan penuh sebagai sinar matahari. Bagiku, perlu ada keseimbangan. Aku perlu melihat hal-hal sebagai diri mereka nyatanya. Dengan begitu, aku bisa menikmati dan mensyukuri secara penuh dan menyeluruh. Aku ingin mencoba lebih banyak seperti itu: membiarkan yang sederhana tetap jadi sederhana.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10