AtomicEssay

AES077 Mererima Kritikan

carloslospenulis arsip2

Sebagai seorang reviewer film, saya selalu berusaha memberikan ulasan yang jujur dan tajam. Platform seperti Letterboxd memberi ruang untuk menyalurkan pandangan saya terhadap karya-karya yang saya tonton termasuk film horor lokal yang belakangan ini semakin banyak digemari. Namun tak semua pihak siap menerima ulasan kritis, dan pengalaman ini menjadi pengingat bagi saya tentang pentingnya menerima kritik.

Beberapa waktu lalu, saya menulis review tentang sebuah film horor Indonesia yang menurut saya punya potensi besar, tapi kurang maksimal dalam eksekusi. Review tersebut saya bagikan di Instagram, lengkap dengan argumen detail tentang apa yang menurut saya perlu diperbaiki. Tak lama setelah itu, saya menerima pesan dari rumah produksi film tersebut yang meminta saya untuk menghapus review tersebut. Alasannya? “Merusak nama baik.”

Awalnya saya sempat kesal. Bukankah kritik adalah bagian tak terpisahkan dari dunia seni termasuk film? Rumah produksi yang profesional seharusnya melihat kritik sebagai masukan untuk berkembang bukan ancaman. Namun kejadian itu juga menjadi pelajaran bagi saya. Terkadang kritik meskipun dimaksudkan untuk membangun bisa terasa menjatuhkan bagi penerimanya.

Sebagai reviewer, saya sadar bahwa tulisan saya bisa memengaruhi persepsi orang lain. Tapi bukankah itulah esensi dari kritik? Sebuah dialog antara kreator dan audiens yang membantu keduanya berkembang? Kritik tidak selalu nyaman tetapi jika diterima dengan lapang dada, ia bisa menjadi pemicu untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Pada akhirnya, saya tidak menghapus review itu tetapi saya memperhalus penyampaiannya agar lebih konstruktif. Menerima kritik adalah kemampuan yang perlu dimiliki semua orang, baik sebagai kreator maupun sebagai kritikus. Kritik adalah jembatan untuk tumbuh, bukan tembok yang perlu ditakuti. Dan bagi saya  pengalaman ini adalah pengingat untuk terus belajar menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih bijak, tanpa kehilangan ketajaman.

Jadi kepada siapa pun yang merasa takut akan kritik, ingatlah dunia seni tidak pernah tumbuh di dalam ruang yang bebas dari diskusi dan perdebatan. Jika semuanya sempurna, apa yang tersisa untuk kita pelajari?

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES192 Melihat Lebih Dekat

Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

carloslos00
AtomicEssay

AES191 Membedah KPB

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

carloslos00
AtomicEssay

AES190 Sonichi

Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…

carloslos10