AtomicEssay

AES079 - Serikat Rahasia Ayam Pop

Ara Djatipenulis arsip2

Restoran dan toko di Jl. Lemahnendeut selalu sepi dan terlupakan, karena semua orang malas keluar-masuk tempat parkirnya yang berhadapan langsung dengan jalanan padat menanjak. Alhasil, jarang sekali ada yang laku di situ. Semua restoran dan toko selalu buka-tutup, cepat berubah, bangkrut dan dibeli perusahaan lain yang juga akan bangkrut. Jarang ada yang bertahan lebih dari setahun. Jarang sekali – kecuali Raja Ayam Pop dan Rendang.

Bangunan kecil itu ada di seberang sebuah pohon besar, dengan tembok dicat merah dan tanaman pot membarisi tepian depannya. Seluruh bagian depannya merupakan jendela kaca, dari lantai hingga langit-langit, bersih dan bening. Kursi-meja kayu tertata rapi di dalamnya, dengan penerangan yang remang-remang. Terlihat sederhana dan kuno. Terpampang sebuah spanduk simpel di atapnya, RAJA AYAM POP DAN RENDANG. Sejauh yang kuingat, restoran ini selalu ada di sana. Tak pernah sekalipun ada pengunjung. Bahkan, sepertinya, tidak pernah ada orang sama sekali – aku hanya ingat seorang nenek-nenek duduk di meja kasir, tapi itu hanya sekali. Tapi tidak pernah tutup, tidak pernah bangkrut. Dia selalu ada dengan kondisi yang sama: bersih, rapi, kosong.

Kadang-kadang ada beberapa mobil terparkir di sana. Tapi aku tidak pernah melihat pengemudinya. Lewat jendela, restoran selalu kosong. Semua ini sangat aneh, tidak masuk akal.

Tidak ada penjelasan lain selain: sebuah serikat rahasia. Sepertinya di sana merupakan tempat pertemuan rahasia sebuah komplotan bawah tanah. Mungkin penyihir, atau mafia, atau konspirator, atau alien. Mungkin ini salah satu dari banyak portal ke dimensi lain. Mungkin ini milik sebuah organisasi klandestin kaya-raya. Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal: kalau tidak, dari mana mereka punya uang untuk menghidupkan restoran gagal ini?

Aku selalu membujuk orang tuaku untuk makan siang di sana tapi mereka tidak mau. Sebenarnya aku jauh lebih serius dari yang orang kira tentang ini – setidaknya 75% percaya bahwa teoriku ada dasarnya. Tapi mau itu nyata atau tidak, misteri ini selalu membuatku senang tiap kali aku lewat restoran itu.

Komentar (8)

joefelus

Nah kalo ada pasukan Sapta Siaga atau 5 Sekawan pasti langsung diselidiki :)

Ara Djati

wah harus bikin cabang Smipa sepertinya!

bbudhi

nah iya nih, setiap hari lewat sini dan penasaran. Tapi tidak pernah berhenti karena persis di belokan dan tanjakan yang padat kendaraan, posisinya kurang enakeun. Beberapa kali ingin mampir tapi selalu kagok atau ragu dia buka apa nggak. Atau kita biarkan dia jadi misteri aja? :D

Ara Djati

iya... tapi siapa tahu kalau datang bisa direkrut serikatnya!!

Andy Sutioso

Wah teori menarik yang perlu dikonfirmasi. Oom @joefelus pasti mau diajak memastikan bahwa setidaknya rendangnya enak seperti namanya.

joefelus

Kalo ada rendang jengkol saya akan mampir hahahaha

AArief Djati

Mungkin warung itu memang tempatnya Raja DiRaja Ayam yang mengasingkan diri karena usianya sudah terlalu tua. Tua dan tidak punya teman. Hanya pelayan setia yang berusaha mengingatkan kebesaran tuannya dengan membuat semacam warung Raja...

Ara Djati

wah bisa jadi

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10