AES080 - Buram dan Berderit

Sudah sangat klise tapi semakin lama aku semakin merasakan gerus terus-menerus waktu. Rasanya, tak peduli berapa banyak aku sudah berniat produktif, waktu tiba-tiba hilang dan aku belum mengerjakan apa-apa seharian itu. Dulu waktu kecil hari-hariku terasa panjang, aku bisa menciptakan banyak karya dan bermain dalam berbagai dunia. Tapi kini makin lama hariku makin pendek. Atau, mungkin, aku jadi buruk mengatur waktu. Butuh lebih banyak tenaga dan kemauan untuk mendorong diriku mengerjakan sesuatu.
Kemarin, jam dua lewat, aku berbaring di lantai kamar sepulang sekolah. Aku memejamkan mataku sebentar. Tiba-tiba langit jadi gelap, dan sudah jam 15.46, dan satu jam hidupku hilang tanpa kumaksud. Padahal aku tidak pernah tidur siang sebelumnya. Sepertinya karena semalam aku diganggu kucingku, Matcharoni Maman Supreman, nama konyol yang muncul dengan sendirinya setelah bertahun-tahun. Sejam itu tidak bisa kudapatkan lagi: sudah hilang selamanya, menyelip lewat jari-jariku.
Dalam tiga bulan aku sudah akan bertambah usia, dalam lima belas aku sudah akan masuk umur KTP. Sebenarnya perasaan terkejar terus-menerus ini sudah sangat wajar dialami semua orang. Bagaimanapun juga, salahku sendiri, karena manajemen waktu yang buruk. Tapi tetap saja terasa menakutkan, mengkhawatirkan.
Kadang-kadang waktu berjalan lambat sekali seperti membeku. Aku bisa zoom-in melihat serat-serat sebuah daun, tersiluet dalam cahaya matahari pagi, desiran angin membelai rambutku, kicauan burung mengitariku. Semua terasa lambat dan damai dan permanen. Lalu tiba-tiba, mataku terpejam, dan semuanya menjadi kelabu dan buram dan berderit. Aku ada di hari ulang tahun ke-38-ku, aku belum melakukan apa-apa dalam hidup, semua harapan dan potensiku tertinggal, semuanya sudah telat, menakutkan. Tapi, tentu saja, kata orang-orang: waktu itu subjektif, hanya tergantung persepsi kita. Kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, dia akan ada di pihak kita. Aku harap aku bisa begitu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
