AES083 - Akulturasi dan Pohon Natal Bambu

Hal-hal yang kita asosiasikan dengan ‘dekorasi natal’ bukanlah hal-hal yang terkesan sangat Indonesia. Cemara bukan pohon lokal, salju bukan sesuatu yang ada di iklim tropis. Alhasil, sulit untuk membangun kenangan masa kecil yang benar-benar ‘fisik’ pada dekorasi natal. Kita punya kenangan yang sangat personal tentang menganyam ketupat, atau meluncurkan kembang api. Tapi dekorasi natal selalu terkesan artifisial, karena memang nyatanya banyak yang artifisial.
Waktu itu, tengah mempersiapkan hiasan untuk gelaran karya Jas Merah, beberapa dari kami (menonton teman-teman) memotong bambu untuk dijadikan jeruji penjara. Sebenarnya kami hanya butuh tongkat bambu yang gundul tak berdaun, tapi rupanya kami tak sengaja memotong bagian bambu yang masih banyak daunnya. Sayang sekali, karena tak bisa digunakan jadi jeruji, tapi juga tidak ada guna lain selain teronggok di kebun dijadikan sarang nyamuk.
Pucuk bambu ini ketika dilepaskan dari batangnya ternyata jadinya cukup tinggi, terlihat seperti miniatur bambu yang penuh dan pendek. Agak seperti pohon natal. Kami jadi punya ide.
Kami mengangkutnya ke basecamp — sepertinya terlihat sangat aneh sepanjang perjalanan ke sana — untuk dijadikan pohon natal. Kami menghiasnya dengan strip plastik bantex berwarna (namanya strip membundel kertas atau apalah), spesifik yang berwarna hijau dan merah. Kami senang sekali karena punya hiasan yang bagus. Aku tidak pernah menghias pohon natal sebelumnya, atau punya pohon natal sebelumnya, jadi aku luar biasa senang.
Yang membuatku begitu senang dengan karya ini bukanlah karena sentimen natalnya, atau karena kecantikannya, atau karena fungsinya. Aku senang karena aku jadi teringat betapa kita bisa menjadikan suatu budaya yang internasional menjadi sesuatu yang terasa begitu sederhana dan lokal. Dekorasi natal tidak harus terpaku pada apa yang kita lihat di media. Dekorasi natal bisa kita adaptasi menjadi apa yang kita miliki saat ini.
Waktu SMP kami belajar tentang akulturasi. Intinya, ketika mengadopsi budaya asing, manusia akan mencari bahan-bahan pengganti dari lingkungan terdekatnya. Lumpia diracik dengan bumbu-bumbu tradisional, bakmi Jawa lahir dari penyesuaian dengan lidah lokal. Kenapa pohon natal selama ini tidak pernah dibuat lebih lokal? Budaya adalah sesuatu yang fluktuatif, yang personal, yang customizable. Pohon natal bambu adalah sesuatu dari sekian contoh kecil akulturasi.
difoto oleh seline
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
