AES084 Simbol Duka Atau Kasih

Hari ini aku membeli setangkai bunga. Warnanya cantik, kelopaknya lembut, dan wanginya semerbak memenuhi ruangan. Ada sesuatu yang menenangkan dari bunga ini, seolah-olah ia menyimpan pesan rahasia tentang kehidupan. Tapi saat aku memandangnya lebih lama, aku menyadari sesuatu: setangkai bunga selalu menjadi simbol, baik duka maupun kasih.
Bunga itu hidup, indah, dan harum. Tapi seperti kita, ia punya batas waktu. Dalam beberapa hari, kelopaknya akan layu, wanginya memudar, dan ia akan kembali ke tanah tempat asalnya. Dan di sanalah, aku mulai merenung. Hidup kita pun serupa: indah, penuh makna, tapi pada akhirnya fana.
Bunga sering kali menjadi saksi dalam momen-momen penting manusia. Saat seseorang memberi bunga, itu adalah ungkapan kasih entah untuk merayakan cinta, kebahagiaan, atau sekadar mengapresiasi kehadiran seseorang. Tapi di sisi lain bunga juga sering muncul di momen duka, saat seseorang pergi untuk selamanya. Ketika kita menaburkan bunga di atas makam, itu adalah cara kita berkata: "Kami mengenangmu, dan kami akan selalu merindukanmu."
Ini membuatku bertanya-tanya, apa peran kita dalam hidup ini? Apakah kita lebih seperti bunga yang diberikan menyebarkan keharuman dan kebahagiaan kepada orang lain?, atau kita seperti bunga yang ditaburkan menjadi simbol kenangan setelah kita pergi?
Yang pasti bunga mengajarkan bahwa hidup itu sementara tapi punya kesempatan untuk memberi makna. Seperti bunga yang mekar hanya sesaat tapi meninggalkan harum yang abadi, kita pun bisa mengisi hidup dengan kebaikan dan cinta yang akan dikenang orang lain meski kita sudah tidak ada.
Jadi setangkai bunga ini bukan hanya hiasan meja. Ia adalah pengingat halus tentang keindahan hidup dan kepastian akhirnya. Entah kita yang ditaburi bunga atau yang memberi bunga, yang terpenting adalah bagaimana kita mekar dalam hidup kita sendiri dengan wangi yang membawa kebaikan bagi orang lain.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

