AtomicEssay

AES086 - Limun Tersegar Sepanjang Masa

Ara Djatipenulis arsip2

Buku-buku Enid Blyton semuanya terasa repetitif, tapi hangat dan familier. Selalu ada anak-anak dan mungkin seekor anjing, menghabiskan waktu liburan mereka di pedesaan Inggris, memecahkan misteri atau menjelajahi dunia gaib. Sepertinya anak-anak di seluruh dunia, lintas generasi, punya kenangan masa kecil tentang kisah-kisah ini.

Bagian dari buku-buku ini yang paling kuingat adalah makanannya. Enid Blyton mampu mendeskripsikan makanan dan minuman dengan begitu menggiurkan, terasa segar dan sempurna dan menyenangkan di lidah — tapi hanya untuk dibayangkan, karena makanan Inggris ini sulit kutemui di keseharian. Dia mendeskripsikan biskuit yang meledak dengan madu di lidah, tentang kue coklat yang kental dan lezat, tentang custard. Aku tidak tahu apa itu custard, tapi terdengar enak. Ketika aku benar-benar mencicip custard, aku kecewa. Kebanyakan makanan Inggris yang pernah kumakan, ternyata mengecewakan. Sepertinya Enid Blyton telah memasang ekspektasiku terlalu tinggi.

Tapi yang paling membuatku kecewa adalah limun. Tak terhitung berapa banyak tokoh yang piknik menikmati limun dingin. Aku pernah membaca tentang ambrosia, minuman nektar yang dinikmati oleh dewa-dewi Yunani. Kupikir limun adalah ekivalen terdekatnya untuk makhluk fana.

Pertama kali aku mencoba lemonade, rasanya tak seperti bayanganku. Limun Oriental di Pekalongan memiliki warna yang sesuai, tapi rasanya sintetis dan kurang seperti buah. Berbagai minuman lain tidak pernah ada yang rasanya sesuai. Limun tersegar sepanjang masa terasa manis dan asam yang berpadu sempurna. Membasuh kerongkongan kita di hari terpanas sekalipun. Ringan dan segar, seperti bunga-bunga musim kemarau yang terselimut sempurna oleh cahaya emas senja. Atau manis dan tak berdosa, seperti riuh tawa saat bermain congklak saat masih kecil. Limun tersegar sepanjang masa belum pernah kutemukan. Limun tersegar sepanjang masa hanya hidup dalam imajinasiku.

Komentar (1)

joefelus

Oh saya setuju! Saya akhirnya sadar sudah jadi korban imajinasi :) Tapi biar saya sudah ubanan, masih tetap suka buku2 seperti ini karena bukan hanya ceritanya saja tapi juga mengkoneksikan saya dengan masa lalu, masa kecil dan semuanya itu sangat seru!

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10