AtomicEssay

AES086 Memaknai dan Merespon Pandemi

Andy Sutiosopenulis arsip2

Dari sebuah chat pendek bersama seorang teman - orangtua Smipa - baru saja siang tadi, saya menangkap kekhawatiran besar dari situasi pandemi yang berkepanjangan. Tentang kebutuhan anak-anak terkait sosialisasi, eksplorasi di luar lingkungan rumah dan tentunya juga perkembangan psikologis mereka. Esai malam ini saya tuliskan berdasarkan chat WA siang tadi. 

Tentang pertanyaan teman saya tersebut, saya tidak bisa memberikan jawaban, karena ini memang situasi yang sulit sekali dipahami oleh siapapun. Betul sekali anak-anak sangat terkendala perkembangannya dengan situasi seperti sekarang ini. Di sisi lain, ini adalah situasi yang sama sekali di luar kendali kita.  

Kalau kita memperhatikan situasi di luar sana, semua orang berhadapan dengan tantangannya masing-masing. Kita, sebagai orangtua, tentunya berhadapan dengan situasi anak-anak kita dan proses tumbuh kembangnya. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Dalam posisi sebagai orangtua juga sam-sama sebagai pendidik, pemikiran saya begini. Pertama-tama, bagaimanapun ini adalah situasi yang harus kita terima. Pandemi ini terjadi di seluruh penjuru dunia - tanpa kecuali, saya pikir, situasi pandemi ini akan jadi situasi yang mendefinisikan generasi kita dan juga anak-anak kita. Saya kira sama halnya dengan berbagai situasi lain yang signifikan mengubah perjalanan peradaban manusia - seperti contohnya dulu saat jaman perang kemerdekaan di Indonesia - atau perang dunia. Situasi yang sama-sama tidak diharapkan siapapun, tapi tetap harus dihadapi, dan proses itu mendefinisikan kelompok masyarakat tertentu bahkan juga peradaban dunia.

Sebagai orang beriman, saya pikir pertama-tama kita perlu meyakini bahwa segala hal yang terjadi dan kita alami, terjadi atas kehendak Sang Kuasa. Apakah itu sejalan dengan pemikiran atau ekspektasi manusia, saya pikir itu lain perkara. Saya pikir tugas manusia adalah memaknai apa yang terjadi dan melakukan apa yang memang semestinya kita lakukan, sebaik yang kita bisa. Sesederhana, sekaligus sekompleks itu juga.  

759_LifeIsBeautiful_Catalog_Poster_v2_Approved.pngSambil menulis tentang esai ini, bicara tentang perang, saya tetiba ingat satu filem bagus yang temanya tentang perang. Filem ini memenangkan 3 Oscar, disutradarai dan dimainkan oleh Roberto Begnini... La Vita e Bella - judul aslinya. Life is Beautiful dibuat tahun 1997. Filem ini mendapat rating tinggi di IMDB, karena memang filem ini sangat bagus. 

Filem ini bercerita tentang bagaimana si ayah bermain peran di depan anaknya bahwa dalam suasana perang. Okupasi Jerman dan kamp konsentrasi adalah hanya sebuah permainan belaka. Dan hal itulah yang ada di benak anaknya sampai akhirnya perang usai walaupun si ayah akhirnya meninggal dunia. Singkat saja ceritanya - supaya tidak jadi spoiler bagi teman-teman yang belum nonton. 

Kenapa saya teringat filem ini, saya kira penting bagi kita orangtua untuk terus membangun keyakinan dalam diri anak-anak kita bahwa hidup itu indah, karena keindahan ada dari bagaimana kita memandangnya. Selalu ada hal yang bisa kita syukuri. Bahwa walaupun sekarang kita ada dalam kegelapan, terang pasti akan datang. 

Lagipula saya yakin manusia adalah makhluk yang paling kemampuannya paling baik dalam beradaptasi. Karenanya dia bisa jadi spesies paling dominan di atas planet bumi. Harapannya manusia bisa melakukan hal-hal yang bijak dan berkesadaran dalam mengatasi tantangan besar peradaban dunia di situasi pandemi global ini.  

 

Komentar (1)

aadmin

Salah satu film favorit saya juga nih.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES879 Menyadari Perangkap Ilusi

Kalau bicara the Matrix, ingetnya bang Keanu yang emang aktingnya epic banget di serial filem The Matrix. Dulu mungkin kita lihat sebatas hiburan, tapi ternyata makin ke sini banyak yang bilang bahwa filem The Matrix ini adalah bukan semata filem fiksi, tapi sesungguhnya sebuah dokumenter. Menarik.…

Andy Sutioso30
AtomicEssay

AES848 Good Will Hunting : Shadow and Soul Mate

Malam kemarin saya menonton filem lama yang dibintangi dua aktor favorit saya, Robin Williams dan Matt Damon. Judul filemnya Good Will Hunting. Filem ini filem lama, dibuat tahun 1997. Pertama saya tonton sudah lama sekali, entah tahun berapa. Kemarin malam saya nonton lagi dengan apresiasi yang sa…

Andy Sutioso64
AtomicEssay

AES698 The Peaceful Warrior

Beberapa sore lalu sepulang kegiatan di Smipa, saya ngobrol sekilas dengan kak @matheusaribowo dan kak @yantisuryanii7 tentang satu buku yang sempat saya pinjamkan. Buku itu berjudul Celestine Prophecy. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Manuskrip Celestine. Buku ini b…

Andy Sutioso11