AES089 - Nyanyian Sang Angin

Hembusan angin adalah sesuatu yang selalu kucintai. Aku senang merasakan belaian lembutnya membawa semangat ke dalam diriku, atau sepoinya mengantarku tidur. Aku senang membiarkan rambutku berkibar dalam gemuruhnya, menikmati terpaannya yang kutabrak saat naik sepeda kencang-kencang.
Angin selalu membuatku bangun, segar, hidup. Aku jadi lebih senang, lebih damai. Kalau aku sedang mati ide, aku keluar rumah dan berangin-angin. Rasanya seperti jadi tokoh film. Semuanya begitu romantis dan penuh gairah. Apalagi kalau aku menyetel lagu di dalam kepala — hari yang menyebalkan bisa langsung jadi indah.
Aku tidak pernah naik motor pakai jaket (kata ibuku: cari penyakit!). Aku paling senang merasakan angin bersemilir, bersiul di sekitar kupingku. Apalagi kalau di jalan layang! Itu kenikmatanku yang paling nikmat — pulang ke rumah setelah hari yang menyenangkan, naik gojek, melihat matahari tenggelam menaungi Bandung, mendengarkan angin deras di sekitar kepala dan tubuhku.
(Tapi aku harus hati-hati dengan barang bawaanku di jalan layang. Waktu itu bendera regu pramukaku, yang sudah diturunkan antar-generasi, terbang lepas di jalan layang dan hilang selamanya. Sampai sekarang regu kami jadi bahan tertawaan karena insiden itu.)
Angin adalah sesuatu yang menyenangkan. Berbeda dengan elemen lainnya, dia tak kasat mata. Kita hanya bisa melihatnya lewat interaksi. Ekor layangan yang berkecepak riang di langit biru, atau hujan angin deras, atau pasir dalam angin puyuh, atau jemuran yang terbang, atau daun yang menari. Itu yang membuat angin begitu asyik dan puitis. Dia misterius, tapi juga nyata. Dia bisa terasa dengan panca indera dengan cara yang unik. Dia bersuara! Lewat celah-celah tebing, dia akan bergema dengan agung. Aku sering penasaran tentang apa dia bernyanyi. Nyanyian dari jutaan tahun. Pasti begitu banyak yang ia ketahui dari usianya yang panjang. Andaikan aku bisa berbicara padanya, mendengarkan nyanyiannya, berkisah padanya dan mendengar lantunan nasehatnya. Mungkin suatu hari lagi aku akan fasih berbicara dengan angin.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
