AtomicEssay

AES094 - Solitaire

Ara Djatipenulis arsip2

Aku pertama belajar cara main solitaire saat Kelas 9, diajarkan oleh salah seorang temanku. Permainannya tampak sederhana — sedikit membuat berpikir, tapi konsepnya mudah. Lama-kelamaan, aku semakin senang bermain solitaire. Kalau sudah terbiasa, menggeser-geser kartu dan memindahkannya sesuai urutan, semuanya jadi terasa intuitif dan repetitif. Kalau lagi bosan, sadar-tidak-sadar, aku langsung membuka solitaire di browser dan mulai bermain.

Awal-awal aku kurang paham bagaimana cara kerja poin di solitaire. Kenapa, kalau aku mengambil kartu dari tumpukan As, poinku berkurang hingga jadi 15? Bagaimana caranya agar poinku bisa melambung lebih dari 300? Semakin sering aku bermain, semakin aku menemukan strategi untuk menambahkan poin. Aku bisa memanipulasi glitch dalam solitaire google, atau aku bisa mengikuti prosedur tertentu dalam urutan menyusun kartu. Sejauh ini rekorku 945. Tapi rekor dunia solitaire google adalah 1000, jadi aku penasaran apakah bisa mencetak rekor itu.

Beberapa hari lalu aku menemukan bahwa ada jenis lain solitaire, yaitu pyramid solitaire. Kartunya disusun menjadi bentuk piramida, dan tujuannya adalah memasangkan dua kartu agar bernilai total 13. Jadi kalau aku bosan dengan solitaire klasik, aku bisa pindah bermain pyramid solitaire. Ternyata solitaire ada banyak sekali jenisnya.

Ternyata solitaire mulai pertama bermunculan di Eropa Utara, lalu mulai bergerak ke Eropa Barat dan populer di Prancis pada abad ke-18. Permainan kartu memang sudah lama ada. Ada banyak sekali versi permainan kartu, sama seperti ada banyak sekali versi permainan solitaire. Kartu bisa dipakai juga untuk sulap. Mereka fleksibel, mudah dikenal, bisa dibawa ke mana-mana tanpa memakan banyak tempat. Aku paham kenapa bisa ada berbagai jenis dek kartu selain kartu remi: kartu koleksi, kartu tarot, tentu saja kartu uno! (Kapan-kapan aku akan menulis esai tentang kartu uno kesukaanku yang legendaris)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10