AtomicEssay

AES095: Kesetaraan Gender

haegenquinstonpenulis arsip2

Baru saja, aku membaca suatu artikel ilmiah mengenai kesetaraan gender. Seringkali aku bingung mengenai topik kontroversial seperti ini, apakah kesetaraan gender adalah hal yang genting? Segenting apa, dan apa yang perlu kulakukan memang? Di satu sisi, aku merasa fine-fine aja dengan situasi saat ini, menurut pengamatanku, sebenarnya tidak ada hal-hal yang malah membuat adanya ketidaksetaraan gender. 

Ada beberapa orang, terutama perempuan, di sekitarku, yang suka mempromosikan tentang kesetaraan gender dan diskriminasi wanita. Kalau aku sendiri, cukup setuju dengan mereka (komunitasnya). Namun, yang namanya sesuatu yang sensitif/kontroversial juga, pasti memiliki pro kontranya tersendiri.

Karena tidak terlalu mengerti dan tidak terlalu tahu tentang topiknya, aku tidak berani untuk langsung mengatakan pendapatku tanpa sumber/alasan dan berasumsi. Apakah kesetaraan gender berkaitan dengan kekerasan dari satu terhadap yang lain? Berkaitan, namun aku tidak terlalu memerhatikannya, karena aku sendiri tidak pernah lihat kasus kekerasan terhadap perempuan di smipa. Mungkin, di lingkungan lain, banyak kejadian yang seperti itu. Untuk kejadian seperti itu sih, menurutku melanggar moralitas jiwa yang orang-orang harusnya miliki.

'Hakikat dari kesetaraan gender adalah memastikan kaum perempuan dan laki-laki memiliki aksesibilitas terhadap sumber daya, serta dapat berpartisipasi dan terlibat dalam proses pembangunan sesuai dengan kepentingan dan aspirasinya. Jika hal ini dilakukan, maka manfaat pembangunan akan dirasakan secara adil dan setara. Kesetaraan gender dapat dicapai dengan merubah paradigma atau pola pikir laki-laki dengan memberi ruang kepada perempuan untuk bersama-sama menjadi subjek dalam pembangunan,” tegas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga pada Talkshow Ketika Laki-laki Bicara Kesetaraan Gender yang diselenggarakan oleh Kemen PPPA secara virtual.

Menteri Bintang menambahkan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan, pada kenyataannya membutuhkan dukungan laki-laki. Seperti halnya suami dan ayah R.A Kartini yang mendukung perjuangannya dalam membangun sekolah perempuan, sebuah langkah progresif yang menembus nilai budaya yang dianut masyarakat pada saat itu.'

Berdasarkan artikel di atas, salah satu contoh ketidaksetaraan gender terdapat pada zaman R.A. Kartini, dimana perempuan tidak dapat bersekolah karena menjadi ibu rumah tangga. Pada saat ini, kebanyakan perempuan juga menjadi ibu rumah tangga. Apakah itu hal yang wajar? Iya sih, karena memang biasanya peran perempuan-lah untuk mengurusi anak dan rumah tangganya. Namun, apakah dipaksakan menjadi ibu rumah tangga itu baik? Tentu tidak, kalau mau melakukan pekerjaan lain juga gak apa-apa.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES239: The Scouting of Earth Hour

Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES238: Move On

Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…

haegenquinston10
AtomicEssay

AES237: Diriku yang Berbeda

Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…

haegenquinston20