AtomicEssay

AES096 Dialog

yulitjahyadipenulis arsip2

Satu kalimat pembuka yang jadi pengantar materi Adven dua minggu lalu terasa begitu melekat hingga kini, 'Dialog adalah jalan ketekunan sebagaimana keheningan dan penderitaan'.

Begitu menarik karena dialog disejajarkan dengan keheningan dan penderitaan sebagai jalan ketekunan. 

Topik yang diangkat ini memang seputar relasi antar umat beragama dengan seluk beluknya yang cenderung kusut seperti benang yang susah diuraikan. Tema bahasan ini adalah bagian dari upaya gereja membaca situasi nyata di tataran umat, yang hasilnya nanti dibawa ke Sinode Para Uskup di Roma tahun 2023 mendatang.

Topik ini tentunya adalah topik keprihatinan yang menjadi refleksi bersama, sejauh mana kami sebagai umat terlibat mengupayakan dialog antar umat. 

Bahasan malam itu sendiri sebetulnya jadi dialog tersendiri di antara kami. Ruang yang tersedia memunculkan keterbukaan hingga persoalan yang tadinya hanya dialami satu atau dua orang kemudian menjadi perhatian bersama. 

Dialog lantas menjadi begitu menarik untuk ditelaah. Dialog pastinya bukan sekedar bentuk percakapan dangkal seputar rutinitas belaka melainkan bentuk percakapan yang mendalam yang membutuhkan kesediaan untuk membuka diri dan menjadi apa adanya. 

Dialog terasa sebagai wujud kehadiran yang nyata dan partisipasi aktif dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Intinya adalah tentang kehadiran, tentang keberadaan dan tentang keterlibatan. Maka ia lalu menjadi sejajar dengan keheningan yang sama-sama menghadirkan. Jalan ketekunan merujuk pada kemauan untuk terus menerus hadir dan bukan hanya sekali hadir. Berarti ia butuh untuk dijalani, harus terus dialami serupa menelusuri jalan yang panjang. 

Sederhana dan lagi-lagi tidaklah mudah. Baik itu dialog antar pribadi maupun dialog dengan diri sendiri dalam konteks keheningan yang disebutkan tadi. 

Lalu jika usaha dialog antar umat masih ada begitu banyak kendalanya, barangkali itu menunjuk pada ketidakhadiran yang nyata di sana atau pada ketidakterbukaan sejak dari awalnya. Seperti sebuah pintu yang tertutup rapat yang mengisyaratkan 'Silakan lewat jalan lain'.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES107 Konstelasi Bintang

Kemarin adalah kelas ketiga dan yang terakhir dari rangkaian kelas daring tentang Human Design. Semalam, sama seperti dua minggu sebelumnya, aku kembali terbangun tengah malam karena pikiranku yang begitu aktif. Selama tertidur, rupanya pikiranku membawa informasi barunya dan diolah di alam bawah s…

yulitjahyadi71
AtomicEssay

AES106 Berkenalan dengan Human Design

"Ga semua orang bisa jadi inisiator, kecuali dia Manifestor" ujar temanku yang sedang serius mendalami Human Design. "Jadi kita ga bisa paksa anak kita untuk bisa punya inisiatif. Ada yang memang butuh diajak kalau tipenya Projector, bahkan kalau dia Reflector, setelah diajak pun dia perlu waktu 28…

yulitjahyadi62
AtomicEssay

AES105 Ambyar

Ambyar, kurang lebih seperti itu gambaran perasaan seseorang saat ekspektasinya berbenturan dengan realita lalu runtuh berserakan. Kemegahan yang terbangun tanpa sadar ketika membayangkan satu situasi dari luar, sirna seketika... seperti menguapnya mimpi begitu mata mulai terbuka. Frustasi, begitu…

yulitjahyadi40