AES096 - Skenario Kalau Jadi Cacing

Ada pertanyaan yang akhir-akhir ini sering beredar di internet: would you love me if I were a worm? Pertanyaan yang konyol, aneh, tapi juga kabarnya menjadi pertanyaan yang ditakuti: bagaimana cara menjawabnya tanpa menyinggung perasaan seorang kekasih? Apakah ada jawaban yang benar dan salah dari pertanyaan ini? Tapi aku jadi sering berpikir tentang kemungkinan (ketidakmungkinan?) ini. Menyenangkan memutar-mutarnya dalam pikiran.
Kalau aku, sejujurnya, aku akan pertama-tama menjawab tidak.
Skenario pertama: aku bertemu belahan jiwaku pertama kalinya ketika dia berbentuk cacing. Kalau aku memungut cacing dari pinggir jalan, meskipun dia belahan jiwaku, aku tidak akan tahu. Aku tidak akan bisa mengobrol dengannya, makan bersama. Aku tidak bisa memegangnya lama-lama, kalau tidak dia akan kekeringan. Dia akan meninggal jauh lebih cepat dariku. Jauh terlalu cepat, aku tidak akan pernah tahu dia belahan jiwaku.
Skenario kedua: aku sudah mengenal belahan jiwaku, lalu dia tiba-tiba berubah jadi cacing. Kalau belahan jiwaku tiba-tiba berubah jadi cacing, dan aku tahu itu dia, mungkin aku akan menghiburnya dan berusaha membiarkannya tetap hidup.
Skenario kedua, subskenario pertama: dia berubah sepenuhnya menjadi cacing, tanpa punya rekoleksi tentang kehidupan sebelumnya atau dirinya sendiri. Itu akan sangat menyedihkan. Artinya dia sepenuhnya menjadi cacing. Kalau begitu, apakah dia tetap belahan jiwaku? Kalau luar-dalam dia cacing, tapi dulu cacing itu bukan cacing, apakah aku bisa memiliki koneksi yang sama dengannya? Bukankah kasihan kalau dia hanya seekor cacing yang ingin hidup cacing normal, lalu tiba-tiba ada manusia yang menangisinya dan mencoba membuatnya hidup di dalam rumah? Dalam skenario ini, kurasa pilihan terbaik adalah membebaskannya pada alam.
Skenario kedua, subskenario kedua: dia berubah menjadi manusia berbentuk cacing. Dia masih punya memori dan kesadaran penuh. Dia masih ingat semuanya. Dia terjebak dalam tubuh seekor cacing. Ini skenario yang lebih menyedihkan lagi: aku bersedih, apalagi dia. Aku akan mencari cara agar dia bisa berkomunikasi. Mungkin bisa dengan morse (kalau dia hafal), atau dengan tinta (kalau itu tidak meracuni kulitnya), atau dengan menunjuk-nunjuk tulisan di kertas. Tapi, masalahnya, cacing buta. Jadi harus ada cara lain untuk berkomunikasi menggunakan raba. Seberapa lama dia bisa terbiasa? Ini hidup yang sungguh menyedihkan.
Skenario kedua, subskenario ketiga: aku menemukan cara mengubahnya kembali jadi orang, tanpa tumbal, tanpa bayaran maut. Skenario paling menyenangkan! Kita semua bahagia dan selamat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
