AES10 doa kecil

Masih mengalir deras kabar-kabar yang membuat ngilu di hati. Keresahan tak berujung menjadi bagian dari keseharian. Jadi makanan sehari-hari, diet yang bikin kurus iman kalau menurut mbak Utay. Ketika sesuatu terjadi pada orang yang kita kenal, terlebih di lingkungan terdekat, diri seolah berada di dalam snow globe yang diguncang. Seketika posisi hati, tangan dan kepala berubah. Mengubah prioritas, rasa, cara pikir dan cara bersikap. Tidak ada cara untuk menghindar. Hanya bisa mengondisikan diri untuk menerima. Diam, menenangkan nafas, merasakan diri. Masih bisa bernafas tenang, melihat langit luas dan hangat warna sinar matahari, merasa hembus udara segar dan sejuk rumput di kaki, mendengar berbagai sura kehidupan di sekitar. Bersyukur untuk berkatNya hingga detik ini, lalu turut hening dan menyisipkan doa untuk semesta.
Tidak menghilangkan rasa ngilu saat teringat mereka yang tiba-tiba pergi dan keluarga yang tiba-tiba ditinggal. Tidak menghapus khawatir ketika ingat mereka yang sedang berjuang menghadapi sakit atau dampak pandemi. Tidak mengubah kenyataan yang tengah berjalan di seluruh penjuru dunia saat ini. Namun paling tidak membuat kepala, hati dan tangan lebih tenang, seperti butir-butir salju dalam snow globe yang lambat-lambat kembali ke tempat.
‘Dalam situasi seperti ini, doa apa yang terus terselip di hatimu?” tanya mbak Utay. Ruth Marbun, perupa muda yang dikenal dengan nama mbak Utay kemudian mencoba merangkai doa-doa kecil dari teman-temannya. Meski berawal dari ide iseng, karena situasi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan proyek-proyeknya. Namun ingin ia kembangkan untuk menyatukan harapan, menggemakan teriakan-teriakan tak bersuara dari relung-relung hati ke semesta. “Karena susah hatimu, mungkin susah hati kita bersama.” ujarnya. Satu dari banyak upaya yang dimunculkan dalam merespon situasi saat ini. Doa-doa kecil mungkin jadi besar karena bersama. Harapannya pun sederhana, mudah-mudahan menuliskan doa kecilmu memberi kelegaan meski di batas minimum, mudah-mudahan membaca doa kecil teman-teman, membuat yang berduka tidak merasa sendiri. Semoga..
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES182 Kolaborasi Buku Anak
Pada Festival Literasi Tahun Pendidikan 21 yang mulai berlangsung ini, ada banyak program menarik. Salah satu yang baru adalah Kolaborasi Buku Anak. Undangan pertama untuk para penulis. Siapapun yang mau boleh menulis cerita bertema imajinatif untuk anak < 10 tahun. Ternyata cukup banyak yang me…

AES181 Terima Kasih!!
Festival Literasi TP 2024-2025 baru saja berakhir, penuh rasa dan syukur. Festival Literasi di Smipa bukan acara yang wah dalam arti mewah atau meriah saja. Yang ingin dicapai bukan sekadar wah. Banyak hal yang ingin kita sasar dan bangun lewat kegiatan ini. Jadi, apa yang membedakan Festival Liter…

AES180
Sudah cukup lama tidak mengunjungi akun Ivan Lanin. Biasanya pada periode merapot, saya suka melihat-lihat postingan beliau. Banyak dapat info perkembangan bahasa Indonesia yang jarang sekali dapat perhatian. Unggahan uda selalu menarik, dengan nuansa humor yang kocak, sekaligus mengajak pembaca be…
