AES10 Tanaman Membawa Berkah

In this economy (istilah zaman sekarang), kebutuhan pangan manusia seperti bahan pokok, lauk, bahkan bumbu semakin mahal. Dulu semasa saya masih tinggal di kampung, berkebun dan bertani itu merupakan kegiatan sehari-hari orang tua saya lakukan. Menanam padi, timun, kacang panjang, kol, kangkung, kemangi, dan lain-lain. Kami memiliki beberapa hewan unggas yang kami pelihara untuk kami ternak agar mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sekarang saya tinggal di kota besar. Lahan terbatas. Tak banyak lahan/ area yang masih gembur tanahnya.
Entah kapan memulainya, saya yang memiliki pengetahuan secuil tentang bercocok tanam mulai menekuni kegiatan menanam di depan rumah. Kami membuat kompos sendiri dari kulit sayur, kulit buah, serta sisa makanan lainnya. Banyak belajar dari teman, baca buku, baca artikel, menyimak cerita teman tentang bercocok tanam, bahkan belajar di sekolah bersama murid. Membuat saya semakin senang menanam. Saya mulai mengajak suami, dan anak-anak untuk turut serta melakukan kegiatan bercocok tanam bersama. Pelan-pelan tapi pasti, semua bermula dari niat. Niat disambut taat. Taat bukan berarti tak nikmat. Akhirnya kami nikmati berkat.
Menyadari bahwa semua ini bermula dari hal yang kecil. Menanam bumbu dari sisa bumbu yang saya beli dari warung kemudian saya tancapkan ke media tanam yang sudah kami buat. Tak mudah dan tak goyah. Semua bermula dengan susah. Susah tapi bukan berarti pasrah. Akhirnya, tanaman yang kami tanam bertambah. Dari satu jadi dua, dari dua jadi tiga, dari tiga jadi lima, dan sekarang entah berapa.
Saya paham betul bahwa tanaman yang kami tumbuhkan bukan sekedar untuk memenuhi pot/ media tanam saja supaya indah, namun agar mudah. Mudah mengambil ketika saya butuh untuk memasak, mudah karena ditanam di depan rumah, murah karena tidak harus mengeluarkan uang. Tapi selain itu, mereka ditumbuhkan Tuhan karena kami ada untuk mereka agar menjadi berkah, bukan hanya untuk tubuh kami saja, tapi untuk mereka yang ada di lingkungan rumah.
Komentar (1)
Keren ka Ana
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES942 Holistic Science
Pertama kali mendengar kata holistik (holistic) disandingkan dengan kata lain di belakangnya, seingat saya di sekitar tahun 2005-an. Saat awal kami merintis Rumah Belajar Semi Palar - waktu itu masih mengontrak satu rumah di Jalan Terusan Karang TIneung, karena lokasi saat itu Semi Palar masih beru…

AES935 Dialog Batin : Akar Perwujudan Kehidupan Manusia
John Dewey bilang, Pendidikan adalah Kehidupan itu Sendiri. Dalam konteks itulah, kita perlu berupaya memahami apa yang disebut dengan manusia seutuhnya dalam konteks kehidupannya yang sejati, tentunya dalam pemaknaannya yang paling fundamental. Manusia sejatinya adalah makhluk spiritual. Hal ini t…

AES002 Refleksi di Balik Cucian Piring
Sebagi wanita multi tasking, kegiatan mencuci piring, sering jadi momen untuk aku melakukan refleksi di luar kegiatan ibadah rutin. Tangan tetap bergerak, tapi pikiran bisa bermain, karena aku jadi bisa ngobrol dengan diri sendiri. Sekelumit pertanyaan dasar: Kenapa aku tidak nyaman hari ini? Apa…


