AES104 - Hidup dalam Hypothetical

Kalau aku sedang di mobil dan bosan, aku duduk dan menyenderkan kepalaku pada sudut jendela, dan merasakan getaran tiap polisi tidur, mendengarkan gigiku bergemeletuk. Aku memandang orang yang lewat dan kabel listrik yang pesat bergerak. Aku bayangkan seandainya aku seorang akrobat, dan bisa berlari di atas kabel listrik, secepat mobil berjalan. Seandainya ada trem gantung yang beroperasi di seluruh kota. Seandainya semua pakaian orang di dunia dijemur di atas kabel listrik. Seandainya, seandainya, seandainya.
Aku suka membayang-bayangkan segala hal. Dapat dilihat dari tulisan-tulisanku sebelumnya, tentang skenario-skenario tidak masuk akal. Tapi memang menyenangkan membiarkan imajinasi lari sebebas-bebasnya. Aku bisa mempertimbangkan dan memperhitungkan segala sesuatu untuk segala skenario.
Sesuatu yang lebih tidak nyata seringkali seru daripada sesuatu nyata. Semuanya tidak terbatas, semuanya bebas. Waktu kecil, kalau tidak bisa tidur, aku membayangkan berbagai macam cerita. Esoknya, aku bisa membayangkan cerita yang sama, tapi mengubah hal-hal tertentu untuk menciptakan kemungkinan yang baru. Dunia jadi jauh lebih menyenangkan dengan begini.
Tapi juga, kalau dipikir, hidup dalam yang tidak nyata bisa merugikan. Aku jadi lupa untuk menikmati yang nyata. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan di dalam alam bayang-bayang. Seperti segala hal, yang terbaik adalah keseimbangan.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
