AES105 - paradoksku

Semua tokoh cerita yang ditulis dengan bagus akan memiliki kerangka kepribadian yang tertentu. Tokoh itu pasti punya want, dan dia pasti punya need yang belum tentu sejalan dengan want-nya. Dia pasti punya suatu masalah dalam inti dirinya yang perlu diselesaikan agar bisa menemukan need itu. Di klimaks cerita, ketika tokoh itu digempur tantangan, ia akan mengalami konflik batin antara want dan need-nya. Di resolusi cerita, ia akan menyadari bahwa selama ini, want-nya bisa terpenuhi ketika ia belajar hidup dalam damai dengan gempuran hasil dari need-nya.
Kalau dalam cerita, seluruh kerangka ini dirancang dengan lihai oleh penulis. Dalam kehidupan nyata, apakah kerangka ini sungguhan ada?
Aku percaya bahwa dunia akan jauh lebih bahagia jika semua orang saling memahami dengan penuh. Aku percaya lingkunganku akan jauh lebih membahagiakan jika semua orang memahami aku dengan penuh. Aku percaya aku akan jauh lebih bahagia jika aku memahami segalanya dengan penuh. Benang merahnya terlihat dengan sangat jelas.
Memahami dan dipahami semua berpusat pada satu proses: mengamati, belajar, berempati. Semua ini adalah kegiatan-kegiatan yang secara umum aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa mencapai titik pemahaman yang aku mau. Setelah banyak refleksi dari pengalaman dan dari raporku, aku menemukan poin yang selama ini terlewat: kemampuanku merangkul perspektif yang berbeda.
Aku biasanya mengatakan bahwa aku orang yang berpikiran terbuka, tapi sepertinya dalam keseharian tidak begitu. Aku sering mencap ide-ide orang lain yang bertentangan dengan ideku seperti ide yang salah dan buruk. Selama ini aku hanya sebatas memahami, tapi tidak merangkul, tidak menerima bahwa mungkin tidak ada yang namanya ‘kebenaran objektif absolut’. Bagaimana aku bisa memahami dunia kalau aku tidak mau merangkul ide-ide dunia? Bagaimana aku bisa menuntut lingkungan memahamiku kalau aku tidak mau berharmoni dengan pemahaman lingkungan? Semakin aku berrefleksi, semakin aku menyadari. Sepertinya aku harus lebih rendah hati agar bisa ‘merangkul’.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
