AtomicEssay

AES106 - Laba-laba Anti-Mentor

Ara Djatipenulis arsip2

Ada seekor laba-laba yang bersarang di pojokan tembok. Jaringnya ia buat dengan penuh kesenian — benang-benang tipis bersilangan dalam pola yang sempurna, melambai anggun dalam cahaya mentari. Sebenarnya tempat ini bukan tempat yang ideal: ramai orang (predator), tapi sepi nyamuk (mangsa). Terlalu dingin saat malam, terlalu panas saat siang. Di samping rak buku. Setiap kali ada yang mengambil buku, jaringnya hancur. Semua kerja keras, semua dedikasinya, hilang sekali terkam. Tapi esoknya, dia sudah membuat jaring baru. Tidakkah dia melihat bahwa ini bukan tempat bagus untuk membuat jaring? Tidakkah dia menyadari sudah saatnya ia pindah? Apa yang membuatnya bersikeras tinggal di tempat ini, tempat yang dulunya nyaman, tapi semakin lama semakin tidak cocok untuknya?

 Aku takut pada laba-laba itu. Mungkin bukan padanya, tapi pada ide di baliknya. Ide bahwa mungkin aku terperangkap oleh ketakutanku sendiri, oleh keyakinan bahwa kalau aku terus menggali, aku akan mencapai emas. Bagaimana aku bisa membedakan yang mana tambang subur dan yang mana tambang mati? Bagaimana aku tahu ini sunk cost dan hanya kasus satu kali, atau aku terjebak dalam sunk cost fallacy di pikiranku sendiri?

Kalau di dongeng, tokoh utama akan melalui perjalanan dengan banyak rintangan dan jebakan. Yang memotivasi dia selalu seorang mentor. Bukan coach atau trainer atau tutor, yang melatihnya untuk satu tujuan spesifik. Selalu seorang mentor maha bijak, maha berpengalaman, yang mengantarkannya dan mengajarinya agar dia bisa melewati rintangan sendiri. Kalau di dongeng, ada deus ex machina: memfasilitasi, memudahkan, melelehkan bongkahan batu di tengah jalan. Atau, ada sentuhan diam-diam sang mentor: mengakomodasi, mencocokkan, memahat jalan tersembunyi dalam bongkahan batu itu.

Dalam kehidupanku, aku tak yakin aku sudah menemukan mentor. Aku tak yakin aku paham jalanku. Tapi aku tidak mau jadi seperti laba-laba! Mungkin laba-laba itu bisa menjadi anti-mentor bagiku.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10