AES107: Bad Luck
Hari senin kemaren, merupakan suatu hari yang cukup berkesan bagiku, setidaknya sampai siang hari. Kegiatan sekolah yang lancar dan cukup menyenangkan, makan siang yang cukup enak, dan balik ke rutinitas sekolah yang terus kukerjakan. Sore harinya, aku sedang berolahraga dengan asik sampai tiba-tiba aku terjatuh saat berlari terlalu kencang. Hal itu, langsung menghancurkan mood saya hari itu. Saat jatuh, lutut saya sempat berada dalam posisi dislokasi, namun untungnya saya langsung menaruhnya kembali ke posisi semula yang seharusnya. Banyak juga luka luar, lecet, dan lebam yang berada dalam tangan dan kaki saat itu. Namun, hal yang menurutku paling mengkhawatirkan adalah rasa pegal dan sakit pada kedua tangan saya sehingga susah gerak. Dengan semua itu, saya pikir ini semua adalah ketidakberuntungan pada hari yang penuh kekecewaan. Putus asa, cemas juga membuatku menjadi kurang semangat atas kenyataan yang telah mencapai keberadaanku saat ini.
Dari hari itu juga sebenarnya aku sering mengalami momen-momen cemas, dengan kekhawatiran mengenai sendi yang dislokasi, tulang retak/patah, kesulitan gerak, pula juga sekolah besok-besok akan seperti apa. Aku juga cukup menyesal, karena tadinya ingin mengerjakan 'tugas' untuk les hari berikutnya namun malah memutuskan untuk berolahraga yang mengakibatkan cedera. Namun, di saat itu juga aku bisa memiliki pemikiran 'bersyukur', karena selama ini Tuhan bisa memberikan kesehatan, mental yang kuat, dan diberikan pengalaman/pembelajaran, meskipun kita sendiri tidak merasa nyaman ataupun setuju. Dari sana, aku mulai mendapatkan harapan, semangat, dan optimisme bahwa, ada tujuan dan maksud di balik semua ini. Terkadang, kita diberikan tantangan, masalah, keterpurukan agar kita dapat menghadapinya.
Di bawah ini adalah beberapa quotes yang saya pernah dengar, berkaitan dengan kondisi yang dimaksud:
- "Sh*t happens all the time"
- "What doesn't kill you makes you stronger"
- "udang di balik batu"
- "Don't waste your time in this world, you may never know when it stops"
Dari yang aku perhatikan, kita cenderung lebih banyak berdoa, meminta pertolongan, dan memaknai, jika kita sedang berada dalam posisi atau situasi yang tidak enak. Namun ketika semua situasi baik-baik saja, apakah kita sebagai manusia masih dekat, masih bersyukur, masih memaknai? Jangankan, manusia itu cenderung meminta pertolongan, mencari harapan, mengerjakan saat terdesak. Mana ada, kata syukur ketika kita jatuh saat melakukan pendakian? Ketika kita tidak diculik di mal saat masih anak kecil? Wkwkwk
Dari kejadian ini, aku bisa belajar untuk bersyukur. Bersyukur untuk segala hal di dunia ini yang telah diberikan, bersyukur atas apapun input dan output yang ada. Bersyukur ketika kita sulit atau tidak bisa melakukannya.
Dengan mindset tersebut, akhirnya kemarin aku diperiksa oleh dokter dan ternyata kaki/tanganku baik-baik saja. Semua hal yang kutakuti dan kukhawatirkan ternyata hanya bayangan semata. Sebagai pribadi manusia disini, aku hanya sedang menunggu pembelajaran dan pengalaman berikutnya.
Apapun yang belum terjadi, jangankan kita pikir adalah realita. Karena semua itu adalah imajinasi dan fantasi saja...
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:
AES239: The Scouting of Earth Hour
Pagi hari ini aku ikut serta dalam kegiatan promosi Earth Hour yang diadakan di pendopo, sebagai seorang pengamat. Sejujurnya, kegiatan ini bagiku cukup membosankan karena, target audiens utama komunitas mereka (yang mengadakan) adalah anak-anak. Di awal kegiatan, aku bisa melihat partisipasi adik-…
AES238: Move On
Mendekati masa ujian, kehidupan anak-anak SMA di Kelas 12 secara umum menjadi semakin berat, terfokuskan pada ujian, dan terbebani akan masa depan yang berada di depan mereka. Tidak hanya di sekolah luar, di Smipa pun, anak-anak di KPB K12 merasa begitu. Sudah saatnya kita serius dalam menuju tujua…
AES237: Diriku yang Berbeda
Ketika kita, sebagai seorang individu, bisa peka terhadap lingkungan sekitar, peka terhadap perilaku diri, dan peka terhadap karakter hati diri. Maka kita bisa bilang, ia cukup bisa 'mengenal' dan melihat diri sendiri, melalui proses refleksi. Walau begitu, seseorang tidak bisa mengenal dirinya sen…
