AtomicEssay

AES108 - Siklus

Ara Djatipenulis arsip2

Untuk sebagian besar hidupku, kurasa orang-orang mempersepsikan aku sebagai orang yang patuh. Mungkin karena aku diam dan tidak banyak membuat kenakalan. Aku juga dulunya pikir aku orang yang patuh. Tapi semakin lama aku semakin tidak suka dicap seperti itu. Kalau diingat-ingat aku sebenarnya tidak pernah patuh-patuh amat dari dulu, aku berani melawan kalau ada yang kurasa salah, dan aku beruntung ada di lingkungan yang sejauh ini akan menerima saranku. Aku bukan orang yang suka disuruh-suruh. Kalau aku tahu caranya, aku akan melakukannya sendiri, sesuai caraku. Yang membuatku terlihat patuh adalah karena (a) lingkunganku sejauh ini jarang melenceng jauh dari nilai-nilaiku, (b) lingkunganku relatif menerima saran yang kuberikan, (c) kata orang muka aku terlihat seperti anak yang baik dan penurut.

Menjadi orang yang patuh menurutku bukanlah sesuatu yang penting. Justru idealnya kita tidak patuh. Kata itu terasa terlalu ‘cari-aman’, terlalu ‘tak-bertulang-punggung’, terlalu ‘menunduk-dan-mendengarkan-dan-simpan-mulutmu’. Yang penting adalah kita menjadi orang yang baik hati, yang penting kita punya rasa empati dan respek.

Kalau membahas soal sopan-santun, banyak sekali yang berjalan di pikiranku. Etika adalah sesuatu yang sangat relatif dan tergantung budaya; tapi juga sesuatu yang sangat alamiah, common sense. Pada akhirnya segala hal dalam hidup akan berpusat pada budaya kita. Tidak ada serentetan peraturan khusus tentang sopan-santun: kita harus merabanya sendiri, belajar sendiri, beradaptasi sendiri dengan persepsi kita dan lingkungan tentang etika.

Kurasa orang pada umumnya punya kecenderungan menyalahkan generasi di bawahnya. Setiap kali sedang membahas tentang etika, di manapun itu — di sekolah, di rumah, di acara makan-makan saat orang tua bergosip tentang anak-anak — selalu saja terdengar kata-kata seperti “anak-anak jaman sekarang emang…” “dulu waktu jaman kita mah…” “namanya juga gen-z…” “suka bingung, mau dibawa ke mana ini negara kalau anak-anaknya kaya gitu?” “teman-teman kamu ga pernah nyapa kalau ketemu. jaman dulu mah, kami selalu nyapa!...”

Bukankah itu menyebalkan untuk didengar? Generalisasi adalah sesuatu yang selalu membuatku sebal. Padahal aku sering mengangguk dan menyapa kalau ketemu orang yang kukenal, padahal aku selalu membungkuk kalau lewat orang yang sedang ngobrol, padahal aku selalu bilang terima kasih dan maaf, padahal aku dilanda rasa bersalah kalau merepotkan orang, padahal, padahal, padahal. Aku terdengar seperti aku juga menggeneralisasi, hipokrit. Tapi semua orang hipokrit.

Ya, ada pergeseran nilai-nilai etika. Ya, anak-anak bisa saja kurang sopan. Ya, bahasa yang digunakan sekarang dan dulu berbeda. Tapi bukankah itu intinya? Semuanya akan berbeda dan bergeser, sulit mencari takaran objektif untuk baik dan buruk. Dari masa ke masa, di tiap generasi, orang muda akan selalu dikritik. Mungkin karena orang pada dasarnya tidak suka perubahan. Mungkin karena ego, atau pembauran kultur, aku ketakutan.

Menurutku, yang penting kita punya tulang punggung.

artist's rendition of mukaku yang baik dan penurut

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Masuk untuk ikut berkomentar.

Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AtomicEssay

AES130 - MPLS 3: Mulai

Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

Ara Djati10
AtomicEssay

AES129 - MPLS Day 2: Konstan

Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

Ara Djati00
AtomicEssay

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB

Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

Ara Djati10