AES109 Hiking Dulu

Jadi ceritanya kemarin aku akhirnya mencoba sesuatu yang orang-orang bilang seru: hiking. Lokasinya di Jayagiri, sebuah tempat yang katanya cocok buat pemula. Tapi yah namanya juga pemula, aku ke sana bener-bener kayak turis baru yang nggak tahu medan, nggak tahu apa yang harus dipersiapkan, bahkan nggak tahu cara gaya biar keliatan kayak anak gunung yang berpengalaman.
Bersama teman-teman, kita mulai perjalanan yang... menanjak. Ini aku garis bawahi, karena kalau dibilang “cukup menanjak” itu seolah-olah meremehkan tingkat kecuraman jalannya. Bagi aku, ini lebih seperti ujian hidup. Setiap langkah berasa kayak naik tangga ke surga, tapi surga yang jauh banget. Lutut mulai protes, napas makin berat, dan aku mulai bertanya-tanya kenapa nggak memilih aktivitas yang lebih santai, kayak nongkrong di kafe.
Selama perjalanan, sebenarnya nggak ada yang terlalu menarik. Cuma pepohonan, tanah licin, dan suara langkah kita yang kadang diselingi oleh suara napas berat. Aku sempat mikir, “Apa enaknya hiking, sih?” Sampai akhirnya kejadian lucu ini terjadi.
Di tengah jalan, kita ketemu rombongan lain dan dari mereka adalah bule. Iya orang asing yang entah gimana caranya kepikiran buat hiking di tempat ini. Dalam hati aku, “Ini bule serius apa nyasar? Siapa coba yang dengan sukarela mau susah-susah kayak gini?” aku penasaran dan iseng nyapa duluan. “Halo!” kata aku sambil senyum sok ramah.
Salah satu dari mereka, bule pria yang kayaknya paling gampang diajak ngomong nyaut, “Permisi yah.”
Detik itu juga, aku kaget. Permisi yah? Ini berasa kayak skrip drama kolonial, di mana penjajah mencoba ngobrol santai sama pribumi. Teman-teman aku langsung shock kecil.
Aku yang nggak mau kalah, celetuk balik sambil setengah bercanda, “Be careful, Sir!” atau kalau diterjemahin "Hati-hati, Tuan.” Dan yang bikin makin lucu, dia langsung balas “Iya, licin yah.” Dengan logat bule yang terdengar kaku tapi lucu, aku dan teman-teman nggak bisa nahan ketawa.
Setelah ketawa bareng sejenak, kita pisah jalan. Aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan dengan energi baru, karena percakapan singkat itu cukup buat mencairkan suasana. Jalan yang tadinya melelahkan jadi terasa lebih ringan karena kami sibuk ngebahas betapa absurdnya momen itu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES192 Melihat Lebih Dekat
Halo teman-teman yang budiman, jujur saja, awalnya saya tidak tahu judul apa yang layak untuk tulisan hari ini. Ada hari-hari ketika judul datang lebih dulu daripada isi tulisan. Tapi ada juga hari ketika isi kepala berjalan sendiri, sementara judul tertinggal jauh di belakang. Maka saya memilih ju…

AES191 Membedah KPB
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menceritakan sedikit perihal KPB, atau Kelompok Petualang Belajar. Pada mulanya, KPB sudah menjadi semacam tradisi setiap awal naik kelas. Ia hadir sebagai cara sekolah memperkenalkan kembali esensi KPB kepada murid-murid baru, juga mungkin kepada…

AES190 Sonichi
Halo teman-teman yang budiman, hari ini saya ingin menuliskan pengalaman saya kembali ke sekolah. Saya memilih judul “Sonichi” tentu bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jepang, sonichi berarti hari pertama. Saya mengenal istilah itu dari dunia JKT48, biasanya dipakai untuk menyebut momen ketika seoran…
