AES109 - meng(aku)

Sebagai anak tunggal dengan sedikit orang di sekitar, aku menghabiskan masa kecilku dalam dunia angan-angan. Aku berpura-pura jadi peri, jadi putri duyung, jadi owa jawa. Aku berpura-pura jadi anak kepala suku di sebuah planet terpencil. Aku berpura-pura jadi agen rahasia, menyelesaikan misi penting untuk menyelamatkan dunia. Dalam permainanku ini, aku orang yang gagah-berani-pandai-gesit-ramah-baik-hati. Aku bisa jadi siapapun yang aku mau!
Tapi dunia sesungguhnya tidak seperti dunia angan-angan. Aku hanyalah aku. Aku harus membentuk diriku sendiri dari apa yang kupunya, dengan apa yang nyata. Yang kupunya belum tentu yang kuinginkan, yang kuinginkan belum tentu yang kupunya.
Kalau ditanya, kamu ingin jadi siapa?, ada jawaban tak terbatas yang kupendam dan akan kuusung dengan senang. Aku ingin jadi seorang antropolog, akademisi, astronom. Seorang penulis, pendekar, pengajar, pesulap. Seorang yang disayangi dan menyayangi, seseorang yang berguna dan serba-bisa. Keinginan adalah sesuatu yang indah, tak terbendung. Tapi juga, sepertinya, sesuatu yang serakah.
Kalau ditanya, kamu siapa?, jawabanku akan terdefinisikan oleh hal-hal yang kuinginkan. Jawabanku selalu, aku ingin jadi antropolog, aku ingin tahu rasanya jadi bintang di langit. Siapa aku sepenuhnya, senyatanya, sewujudnya? Kurasa pada dasarnya manusia ingin jadi lebih dari apa adanya. Hal yang bagus: tanpa ambisi, manusia tidak akan sampai pada titik ini. Tapi dengan begitu, kita sulit menjawab dengan jujur kamu siapa? itu.
Kami pernah pergi ke pantai di Jawa Tengah, suatu hari, sekian tahun lalu. Aku berdiri di tengah elusan deru ombak, pasir basah di antara jemariku, asin udara di hidungku. Kutatap matahari yang kian meleleh, merangkak turun ke tempat istirahatnya di ufuk Barat. Dan kurasakan, dengan kedalaman dan keyakinan yang amat sangat: aku begitu menyayangi ini semua.
Kurasa diriku terdefinisi dalam keping-keping mungil seperti ini. Tiap keping punya artinya. Aku belum menemukan tiap keping, dan aku tidak akan pernah bisa mengumpulkan semuanya. Tapi pada intinya, aku perlu memegang semua keping ini, mencintai dan memaknai. Aku perlu mengakui bahwa aku adalah keping-keping ini, atau keping-keping itu adalah aku, atau bahwa dunia adalah keping-keping adalah aku adalah semua. Mungkin kalau aku sudah mengakui, dengan penuh dan jujur, aku akan menemukan aku.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
