AES110 - akan kembali

Terlanjur terlilit dalam ritme keseharian, begitu mudah hal sederhana jadi gawat, benang rapi jadi kusut.
Namun, sekali-kali, akan terbersit dalam pikiranku bulir-bulir damai, sekian detik ketika masalah-masalahku luluh, dan aku ingat bahwa aku hanya bagian kecil dari ini semua. Dunia akan terus bergerak. Pagi-pagi di sekolah, matahari yang tertuang dari celah-celah tabebuya. Siang-siang ketika sungai bergemericik riang. Sore-sore di jalan layang, membiarkan angin memainkan rambutku, langit merona merah muda. Dan kesukaanku: malam-malam cerah ketika bulan bersinar terang dan bintang menampakkan kilaunya.
Aku terlalu banyak menulis tentang langit dan matahari dan bulan dan terutama bintang, tapi memang metafora dan puisi dan harap semua tak terbatas terkandung di dalamnya. Dari kecil aku ingin jadi bintang, atau punya rasi bintang yang diberi namaku. Mitologi tentang kekasih yang disematkan ke dalam konstelasi, atau kisah yang diabadikan pada langit, semua ini begitu kuinginkan. Karena bintang begitu indah, dan bulan lebih sunyi dalam keagungannya dibanding matahari. Ada sebuah kutipan dari Romeo and Juliet yang mendeskripsikan keinginanku: when he shall die, / Take him and cut him out in little stars, / And he will make the face of heaven so fine / That all the world will be in love with night / And pay no worship to the garish sun.
Bintang bagiku puncak keindahan. Itu kenapa aku jingkrak-jingkrak saat membeli buku luar biasa bagus dan tebal tentang bintang saat FestLit hanya seharga 30.000 (!!), dan aku jingkrak-jingkrak saat K10 diminta mengajarkan SD2 tentang rasi bintang, dan aku jingkrak-jingkrak kalau mau camping karena membayangkan tidur di bawah bintang di samping api unggun dan wangi lembut asap.
Kami camping pramuka beberapa hari lalu, dan rasanya aku mendapatkan semua bulir-bulir damai itu, sepanjang waktu tanpa henti: pagi dengan matahari yang merambat naik, siang dengan air telaga yang membelai tanah, sore dengan angin yang membawa bivak kami terbang (karena jelek dipasangnya), malam dengan bintang. Kali ini benar-benar kulihat, ternyata dunia memang indah dan membahagiakan, dan kita ada dalam rangkulan semua itu. Ditambah lagi Flavi menemukan bahwa ternyata ada rasi bintang sungguhan bernama Ara!!! Jadi setidaknya satu bucket list aku sudah tercentang.
Kalau benangku mulai kusut aku akan berhenti dan mengingat. Kita adalah debu dan akan kembali jadi debu, adalah bintang dan akan kembali jadi bintang, adalah semesta dan akan kembali pada semesta.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
