AES111 1 Kakak 7 Ponakan

Awalnya aku pikir film ini bakal jadi drama keluarga biasa yang jual kesedihan dengan cara klise. Tapi ada satu alasan yang bikin aku tertarik untuk menontonnya: Freya, salah satu anggota JKT48 yang kali ini jadi pemeran utama. Ditambah lagi film ini ternyata juga diputar di salah satu event film paling prestisius, JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival).
Aku nonton di hari pertama penayangan, dengan ekspektasi yang sengaja kutaruh serendah mungkin, sedalam palung Mariana. Tapi ternyata, film ini sukses menghancurkan ekspektasi itu.
Dari segi cerita, film ini punya kedalaman yang nggak biasa. Dengan durasi 2 jam, kisah yang disajikan terasa seperti hidangan mewah di restoran mahal: filosofis, eksklusif, dan berharga. Dialog dan shot kamera menjadi cara utama film ini bercerita, menggantikan narasi verbal yang sering ditemukan di film sejenis.
Misalnya, di awal film ada adegan saat Moku (karakter utama) melambaikan tangan ke kakak ipar dan kakaknya. Shot wide angle yang digunakan bikin momen itu terasa hangat tapi juga ada nuansa kesepian yang tersembunyi.
Atau ada adegan di mana Moku memutuskan pacarnya, Moorien lewat Zoom. Dalam momen yang emosional ini, tiba-tiba Moku harus buru-buru merawat bayi dan kita diperlihatkan dia tersiram air panas. Tapi sudut pandang yang digunakan bukan dari Moku, melainkan dari Moorien di Zoom. Pendekatan seperti ini bikin cerita terasa lebih personal dan menyentuh.
Pemilihan soundtrack juga patut diacungi jempol. Lagu-lagu Sal Priadi seperti "Mesra-Mesranya Kecil-Kecilan Dulu" di awal film berhasil membangun suasana hangat sekaligus haru. Scene itu masih terngiang di kepalaku sampai sekarang, sebuah tanda bahwa film ini berhasil meninggalkan kesan mendalam.
Yang lebih menarik, film ini lebih fokus membangun atmosfer dibandingkan bergantung pada scoring seperti film drama pada umumnya. Banyak suara latar, suara yang mungkin biasanya diabaikan justru jadi elemen unik di sini yang membuat film terasa lebih hidup dan nyata.
Aktor dan aktrisnya semua tampil dengan sangat baik. Yang paling mengejutkan, tentu saja Freya. Meski jam terbangnya di dunia akting belum banyak, dia mampu menampilkan sisi karakter Nina dengan tepat tanpa terlihat berlebihan atau kehilangan emosi yang diperlukan.
Pada akhirnya, film ini adalah karya yang mengincar kalian yang suka drama keluarga dengan pendekatan berbeda. Bagi aku film ini adalah angin segar di industri perfilman Indonesia. Unik, berani, dan meninggalkan kesan mendalam.
Meski begitu, harus kuakui belum ada yang bisa menandingi film favoritku, “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.” Tapi tetap saja, film ini adalah salah satu yang layak mendapat tempat di hati kalian. Kalau kalian suka drama yang penuh makna, film ini wajib ditonton.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

