AES111 - Sekarang Sudah Selesai

Ada titik ketika kita sadar bahwa sesuatu yang sudah lama menjadi sebuah nanti tiba-tiba menjadi sebuah sekarang. Titik di mana semuanya melebur, meletup, melambung; semua terbayarkan, tuntas, tamat. Tiap momen kecil menuju titik itu berkelebatan di dalam kepala, foto-foto menumpuk acak melatarbelakangi semua di sekeliling.
Delapan bulan lalu sebuah ide muncul di tengah diskusi kami. Bagaimana kalau…? Sebuah drama musikal, sebuah kisah fiksi sejarah, sebuah mahakarya. Nanti akan diluncurkan di penghujung bulan Oktober sebagai sebuah film pendek. Kemudian: nanti akan ditampilkan di bulan Desember di pendopo. Kemudian: nanti akan ditampilkan di sebuah panggung sungguhan, di depan audiens yang banyak.
Nanti adalah kata yang mengawang. Berharap dan indah dan tak terbatas. Begitu banyak yang bisa terjadi dalam sebuah nanti.
Jas Merah lahir dari usaha yang begitu panjang. Prosesnya terasa begitu berentet dan tak terduga. Ide yang kecil rupanya bisa berkembang sejauh ini, jika kami saling memadukan pikiran dan dedikasi. Begitu banyak yang ingin kami lakukan dalam waktu yang begitu pendek. Rencana hanya sebatas rencana, akan diurus nanti.
Nanti adalah kata yang mengawang. Berharap, tapi penuh ketidakpastian. Begitu banyak yang bisa gagal dalam sebuah nanti.
Berbulan-bulan memutar-mutar melodi dan kata-kata yang sama membuat kami bosan. Kami stagnan dan jenuh. Tapi, begitu banyak yang sudah kami tuangkan untuk proyek ini, bukankah akan sayang kalau berhenti di tengah jalan? Rasanya seperti meraba-raba dalam gelap, membangun menara tanpa fondasi, dengan batu bata yang entah terbuat dari tanah liat atau kardus. Nanti dulunya megah dan penuh mimpi. Kini nanti menjadi pesimis. Bagaimana kalau seluruh usaha kami, berbulan-bulan itu, akan terbuang sia-sia? Dan jadilah nanti sebuah proyek rugi. Begitu banyak yang sudah kami tuangkan, tapi hasilnya mengecewakan, hanya semata karena kami punya ilusi keberhasilan.
Sepertinya, justru itulah yang membuat kami terus maju. Begitu banyak yang sudah kami tuangkan. Kalau ini bisa jadi sesuatu yang besar, kenapa tidak? Kami akan berusaha selagi bisa, hingga kami puas, hingga kami yakin kami tidak akan menyesal.
Sore itu, di belakang tirai panggung, menghitung detik demi detik sebelum pertunjukan dimulai, ada sebuah ketenangan aneh yang menyelimutiku. Aku tidak merasa takut atau khawatir atau menyesal sedikit pun. Yang ada hanyalah tirai yang tersingkap, tatapan penonton yang penasaran, dialog dan peran dan panggung, kelap-kelip cahaya, hentakan kaki, semua yang sudah kami latih berbulan-bulan. Begitu banyak orang yang sudah membantu segala proses ini, begitu banyak kejadian kecil-kecil dan besar-besar dan tragis dan menggembirakan, dan inilah akumulasinya. Pada akhirnya, kami bisa membuktikan bahwa ini bukan proyek rugi. Pada akhirnya, kami diberkahi oleh senyuman yang memberi selamat dan tangan-tangan yang mendukung. Pada akhirnya, saat tepuk tangan mulai berbunyi, yang kurasakan adalah syukur.
Tiba-tiba, sekarang sudah selesai, dan nanti sudah lewat.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES041 Viva Teater!!! (Tulisan Apresiasi)
(Dokumentasi Pribadi) Pada hari Jumat tepatnya tanggal 11 April 2025, selepas obrolan dengan kakak kelas dan kooridnator jenjang terkait performa saya selama magang, saya memutuskan untuk menonton pergelaran teater yang diadakan di Gedung Mayang Sunda. Saya berangkat kesana bersama-sama dengan kaka…
Rizalk4780
AES788 Membongkar Batasan Diri
Tulisan ini saya dedikasikan untuk kelompok Giri Gora secara khusus dalam konteks pementasan Drama Musikal JasMerah hari Jum'at lalu. Sekalian saya coba menjelaskan lebih jauh kata pengantar - yang cukup panjang - yang saya rasa perlu disampaikan dalam memberikan konteks terhadap proses dan penampi…

AES023 "keren sultan"
“keren sultan” sebuah apresiasi dari beberapa orang yang tak pernah ku sangka. Kami bisa mendapatkan apresiasi walaupun menurutku pentas kemarin kacau, piring pecah di tengah show yang mengharuskan improvisasi dadakan, mic yang jatuh, tombak tombak yang jatuh. aku hendak menangis, aku merasa aku ga…
jovanna20
