AES112 - bahasa tak harus membatasi!

Beberapa waktu yang lalu, Kak Andy mengirimkan sebuah video tentang bagaimana bahasa bisa membatasi kita, dan memintaku memberikan tanggapan.
Video itu membahas ide yang menarik: bahwa bahasa, secara konsep, bertujuan untuk mengkategorisasikan dunia di sekeliling kita. Bahasa adalah sarana paling praktis untuk menerjemahkan isi pikiran kita ke dalam bentuk-bentuk konkret. Maka jadilah hal-hal yang kita utarakan hanya terbatas pada apa yang dapat ditampung oleh bahasa yang kita pakai.
Yang dikatakan dalam video itu masuk ke dalam naungan pertanyaan besar yang sudah lama membuatku penasaran: seberapa banyak dari sudut pandang kita terdistorsi oleh keterbatasan kacamata kita?
Dalam lingkup bahasa sendiri, ada teori yang membahas ini: linguistic relativity. Bahasa yang digunakan seseorang akan mempengaruhi cara dia memandang dunia. Contoh yang paling sederhana dan paling sering dipakai adalah warna: orang Rusia melihat warna biru gelap dan biru muda sebagai dua warna berbeda yang tak berhubungan. Sebaliknya, ada bahasa-bahasa tertentu yang hanya membagi warna jadi hitam, putih, dan merah. Kita tidak bisa menjamin bahwa ‘warna hijau’-ku memiliki definisi yang sama dengan ‘warna hijau’ orang lain.
Kadang ada konsep-konsep yang make sense dalam Bahasa Indonesia tapi tidak bisa diterjemahkan menjadi Bahasa Inggris, dan sebaliknya, dan seterusnya. Kadang ada ide-ide yang sama sekali tidak bisa diterjemahkan menjadi kata-kata. Tapi manusia pada dasarnya ingin berpikir dan membagikan pikiran mereka. Maka teruslah muncul cara-cara lain untuk komunikasi: seni rupa, musik, dansa, literasi... Sebaliknya, sebelum ada bahasa oral, ada pula bahasa tubuh.
Kurasa metode ideal komunikasi adalah transfer pikiran. Andaikan kita bisa menyeleksi serentetan pikiran dari kepala kita, lengkap dengan interpretasi yang sudah tidak bisa digoyahkan lagi, lalu mengirimnya ke kepala orang lain tanpa perlu mengkonversikan apapun dan menjadikannya terbatas pada standar-standar dalam kepala orang itu.
Tapi juga, bukankah ambiguitas dalam bahasa yang membuatnya menarik? Penulis-penulis hebat bisa menggunakan bahasa sebagai extension dan bukan sebagai pembatas. Ketika kita pandai meninggalkan ruang interpretasi, nuansa-nuansa itu jadi bisa muncul di pikiran orang juga. Semua hal dalam hidup menurutku sesungguhnya abstrak. Kita tidak akan pernah bisa membungkus semua itu lewat satu medium, dan memang tidak perlu.
Sebenarnya ini AES ke-111 tapi angka 111 terlalu bagus jadi nanti mau tulis AES yang bagus untuk yang itu tapi ditabung dulu terus ini jadi yang ke-112
Komentar (1)
Dalam konteks yang lebih luas, lebih holistik, bahasa sepertinya akan menemukan keterbatasannya, terutama saat sudah masuk ke ranah spiritualitas.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

