AES112 Sunk Cost

Hari ini aku memutuskan untuk belajar di tempat berbeda. Kadang di rumah, kadang di taman, kadang di kafe. Tapi di mana pun aku berada, ada tiga hal yang bikin otakku sibuk berpikir. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul begitu saja, seperti puzzle kecil yang menunggu untuk diselesaikan.
Pertama, aku kepikiran tentang sunk cost. Ini adalah istilah ekonomi buat menggambarkan sesuatu yang udah kita keluarkan dan nggak bisa diambil kembali, entah waktu, uang, atau energi. Misalnya kamu beli tiket bioskop, tapi filmnya ternyata membosankan. Kalau tetap duduk nonton sampai habis, kamu jatuh ke dalam sunk cost fallacy yaitu, mempertahankan sesuatu hanya karena udah ada investasi sebelumnya.
Bayangin kamu ada di sebuah kafe, beli kopi yang ternyata nggak enak. Kamu tetap minum karena mikir “Sayang kan, udah bayar.” Padahal, berhenti minum kopi itu mungkin lebih baik buat kesehatan (dan mood). Pelajaran dari ini? Kadang lebih baik merelakan yang sudah hilang daripada terus-terusan mempertahankan hal yang nggak membawa manfaat.
Lalu aku mulai mikir soal perbedaan antara facilitate dan accommodate. Dua kata ini kelihatannya mirip, tapi punya makna yang berbeda. Kalau kamu facilitate, artinya kamu membantu proses belajar atau kerja dengan menyediakan alat, sumber daya, atau panduan. Tapi kalau kamu accommodate, itu lebih ke menyesuaikan diri untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Misalnya kamu ngajak temen belajar di taman. Kalau kamu bawa buku catatan dan buat suasana yang nyaman, itu facilitate. Tapi kalau kamu rela pindah ke tempat lain karena temenmu nggak suka angin sepoi-sepoi di taman, itu accommodate. Pesannya? Bantu orang lain, tapi jangan sampai lupa kebutuhanmu sendiri.
Dan terakhir, aku kepikiran tentang peran mentor, tutor, trainer, dan coach. Apa bedanya?, kalau Mentor itu kayak temen senior yang udah punya pengalaman lebih banyak. Dia ngasih pandangan dan inspirasi, tapi nggak selalu ngajarin detail. Tutor lebih spesifik, dia ngajarin materi tertentu biasanya buat tugas atau ujian. Trainer itu fokus ke skill praktis. Kalau kamu mau belajar coding atau cara bikin latte art, kamu cari trainer. Kalau Coach di sisi lain, lebih banyak bertanya daripada ngasih jawaban. Dia bantu kamu menemukan solusi sendiri.
Bayangin kamu lagi belajar gitar. Mentor bakal cerita pengalamannya tampil di panggung, tutor ngajarin cara baca not balok, trainer ngajarin teknik strumming, dan coach bakal tanya, “Kenapa kamu mau belajar gitar?”
Tiga konsep ini mengingatkanku untuk lebih peka dalam belajar dan berinteraksi. Kadang, kita terlalu lama terjebak di sunk cost fallacy, lupa membedakan kapan harus membantu (facilitate) dan kapan harus menyesuaikan (accommodate), atau nggak tahu siapa yang kita butuhkan di perjalanan belajar antara mentor, tutor, trainer, atau coach.
Jadi kalau hari ini kalian juga bertualang belajar di rumah, taman, atau kafe ingat tiga hal ini. Karena siapa tahu, di tengah secangkir kopi atau suara burung di taman ada pelajaran kecil yang bisa bikin hidup kita lebih bermakna.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

