AES113 - Mulai Menyadari Akhir Tahun Ajaran

Pohon jambu di dekat sanggar sedang berbunga, bersemi, sebebas-bebasnya. Benang sarinya yang putih halus bertaburan di kakiku, tipis menyelimuti tanah, menggantikan hijau rumput dengan kilaunya. Kalau angin sedang mempercepat laju tiupnya, benang sari itu mulai jatuh lagi. Pelan-pelan, mengangkasa sedetik untuk kemudian lanjut mengawang turun. Langit biru berkilau di baliknya, meskipun barusan masih kelabu-mendung. Matahari mengintip dari celah-celah dahan dan rantingnya. Untuk sesaat, segala terasa tenang. Segala terasa lambat. Selamanya akan begini.
Tapi selamanya tidak akan begini.
Tiba-tiba, minggu depan akan datang. Tiba-tiba, minggu terakhir tahun ajaran akan datang. Rasanya berbeda tahun ini, ketika aku sudah lebih mengenal duniaku, lebih dalam dan lebih bergelora dari bertahun-tahun sebelumnya. Duniaku selalu jadi latar belakang. Tahun ini, aku belajar untuk menjadikannya hidupku, nyawaku. Rasanya berbeda ketika akhir tahun ajaran akan membawa kelulusan orang-orang banyak, yang aku kenal lebih dekat. Bukan hanya sekedarnya seremonial. Rasanya berbeda ketika sudah seumur sekarang. Aku setahun lebih dekat ke arah kelulusanku sendiri. Suatu hari akan jadi hari terakhirku ke sekolah untuk sekolah. Upacara terakhir di Tahun Ajaran akan suatu hari jadi upacara terakhirku. Hari Senin akan suatu hari jadi hari Senin terakhirku di sekolah. Suatu hari akan jadi hari terakhir aku makan sate kulit terenak di dunia, hari terakhir aku berlari di lapangan rumput, hari terakhir aku memungut bunga tabebuya, hari terakhir aku melambaikan tangan pada anak-anak kecil yang kutemui di lorong.
Tapi hari itu belum datang.
Masih ada begitu banyak yang perlu dikerjakan. Masih ada begitu banyak yang belum terkatakan. Begitu banyak, terlalu banyak, perlu segera dibiarkan bersemi — bukan hanya tinggal sebagai bayangan dan implikasi, tapi sebagai nyata dan berani. Berbunga, bersemi, sebebas-bebasnya.
Tapi sementara ini, aku masih di sini, berpikir dan mengetik dan duduk dalam hujan bulan Juni. Waktu tidak akan menungguku.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…
