AES115 - Bapak Jeruk Lemon

Di belokan menanjak ke arah jalan raya ke arah komplek ke arah rumahku, ada sebuah stan sederhana dari bambu dan triplek. Untuk meneduh dari hujan, terpasang sebuah baliho yang dipasak ke tanah kering dengan tali rafia. Lalu, di mukanya, sebuah papan kecil pertuliskan JERUK LEMON.
Bapak Jeruk Lemon duduk di situ sendiri, setengah mengantuk menghisap rokoknya, dengan topi bundarnya dan kumis mengulat di atas bibirnya. Bulat-bulatan hijau-kuning jeruk lemon tertumpuk rapi di hadapannya. Ketika sudah mulai habis, dia merogoh di lemari di kolong meja stannya, menggambil seikat baru jeruk lemon.
Bapak Jeruk Lemon sudah jadi objek amatanku bertahun-tahun. Mengherankan bagiku mengapa dia memilih berjualan di tempat yang begitu aneh. Stannya ada di tikungan tanjakan. Sangat menyulitkan calon pembeli, yang harus mencari tempat parkir di sudut-sudut paling rawan macet dan curam. Namun, entah bagaimana, dia selalu ada di situ bertahun-tahun. Mungkin jeruknya terjual lumayan banyak. Stannya tidak pernah berubah tempat, bentuk, warna, atau apapun. Dia selalu memakai topi yang sama. Ekspresi di wajahnya selalu datar. Ketika dia mengobrol di saung dekat situ, minum kopi dengan bapak-bapak penjual kembang tahu atau tukang parkir, wajahnya tetap datar. Tidak pernah aku melihatnya tertawa. Kegiatannya hanya lima: menjual jeruk lemon, merokok, main HP, makan gorengan, minum kopi.
Kekonsistenannya ini menjadikannya kanvas yang baik untuk berimajinasi. Sepertinya sudah ada lima karya tulis berbeda yang kubuat terinspirasi darinya. Dengan kata-kata, dia bisa menjelma menjadi banyak sekali: seorang yang ceria, seorang yang pemurung, seorang yang melihat filosofi dalam tiap hal, seorang yang melihat hidup sebagai sesuatu yang sederhana saja. Sudah lama aku ingin mendatanginya dan mewawancarainya. Atau bisa juga memberi tahunya, Bapak menginspirasi banyak sekali tulisanku! Tapi kurasa itu akan aneh dan menakutkan dan mengherankan baginya. Kalau ada orang yang bilang begitu padaku, aku akan terharu, bahwa tanpa kuketahui aku punya fungsi tersendiri di dunia. Tapi sepertinya dia hanya akan menganggapku orang aneh.
Suatu hari, stan Jeruk Lemon kosong. Besoknya dia ada lagi. Lalu kosong lagi seminggu penuh, kecuali suatu hari Kamis di mana Bapak Tukang Parkir tidur di atasnya. Lalu dia ada lagi. Lalu, sekarang, dia hilang. Stannya juga hilang. Aku asumsikan ini karena musim jeruk sudah lewat. Ketika jeruk lemon sudah mulai panen berlimpah, Bapak Jeruk Lemon akan kembali dengan kekonsistenannya.
Komentar (1)
Terima kasih Ara atas 115 kepingan narasi kehidupan kamu. Yang makin segar atas lemon yang ditambahkan lewat tulisan ini. Semoga tidak berhenti menulis... Boleh terhenti, tapi jangan berhenti.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

