AES115 Beradab

Kemarin aku belajar banyak soal tata krama, adab, dan segala hal yang berhubungan dengan itu. Topik yang kelihatannya sepele, tapi kalau dipikir-pikir ini adalah kunci utama supaya kalian nggak jadi manusia yang bikin orang lain gregetan.
Gara-gara itu, aku jadi inget salah satu kejadian nggak enak waktu perjalanan ke Banten pas kelas 9. Jadi ceritanya aku berada rumah salah satu warga disana. Nggak cuma dirumah doang, aku dan anak yang punya rumah mutusin buat main bola di halaman depan rumahnya. Kelihatannya asyik, sampai tiba-tiba bapaknya keluar dan langsung menegur,
"Jangan main bola di sini, nanti sesepuh marah."
Aku yang merasa gak bersalah, waktu itu cuma bisa melongo. Dalam hati aku mikir, "lah, kenapa kita cuman main aja. Emangnya nggak boleh main bareng anaknya?" Tapi karena sadar, aku cuma tamu akhirnya aku buru-buru naruh bola dan duduk diem.
Seiring waktu, aku akhirnya paham kalau yang dimaksud bapaknya itu bukan cuma soal aturan kampung ini, tapi lebih ke sesuatu yang lebih luas: kepatutan dan kepatuhan.
Kepatuhan itu lebih ke aturan yang jelas dan wajib diikuti. Misalnya, kalian nggak boleh nyebrang sembarangan pas lampu merah masih nyala atau kalian harus pake seragam lengkap ke sekolah. Kalau dilanggar, ada konsekuensinya entah itu dimarahin, didenda, atau disetrap di depan kelas.
Nah pas kejadian aku ditegur main bola, aku bisa aja ngeyel dan nanya, "Memangnya ada peraturan tertulis yang bilang nggak boleh main bola di sini?" Tapi tentu aja itu bukan hal yang bijak buat dilakukan, karena di sinilah konsep kedua masuk.
Kepatutan itu lebih ke norma sosial, sesuatu yang nggak tertulis tapi harusnya dipahami. Misalnya kalian dilarang tertawa keras di pemakaman, tapi kalau kalian ngelakuin itu orang pasti bakal ngeliatin kalian dengan tatapan "ini orang sehat?"
Sama kayak kasus main bola tadi. Secara teknis, nggak ada aturan tertulis yang melarang. Tapi ada norma yang berlaku di lingkungan itu, mungkin tetua kampung yang nggak suka anak-anak main bola di halaman depan rumahnya atau ada sejarah kejadian yang bikin warga sekitar trauma. Dan sebagai orang yang numpang hidup di dunia sosial, kita harus ngerti hal-hal semacam ini.
Dari pengalaman ini, aku jadi lebih hati-hati soal apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan di tempat tertentu. Kadang kita terlalu fokus buat patuh sama aturan yang jelas, sampai lupa kalau ada norma sosial yang juga harus dihormati.
Jadi kalau sekarang aku ke tempat baru atau main ke rumah orang, aku bakal lebih banyak observasi dulu. Jangan sampai ngulang kejadian main bola yang tiba-tiba bikin aku kena tegur lagi. Karena pada akhirnya, hidup di masyarakat itu bukan cuma soal ngikutin aturan tapi juga soal ngerti apa yang layak dan wajar di mata orang lain.
Ya, intinya jadi manusia yang beradab.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES197 Pemilu dan Gaya Komunikasi
Halo teman-teman yang budiman,lama rasanya saya tidak bercakap-cakap di sini. Maka pada kesempatan kali ini, izinkan saya menulis sesuatu yang agak berbeda dari biasanya. Bukan soal perjalanan, bukan soal musik, bukan pula soal novel, melainkan tentang pemilu dan gaya komunikasi.Awalnya sederhana s…

AES195 Membahas Sedikit soal Transum Bandung
Tulisan di Ririungan tanggal 3 September 2026Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu b…

AES194 Jalan-Jalan 2 Minggu Ini
Tulisan di Ririungan tanggal 23 Agustus 2026Halo teman-teman yang budiman, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis sepatah dua patah kata di sini. Entah kenapa, gairah menulis saya sempat mengalami kekeringan. Bukan karena tidak ada kehidupan yang berjalan, bukan juga karena kepala benar-benar…

