AES115 Experiment Room

Menjelajah di ruang imajiner, aku sadar ada ruangan yang sering kulihat saja, berlalu tanpa mencoba mengetuk apalagi mengintip. "Ruang Eksperimen" tertera di pintunya. Meskipun di dalam tampak asik karena dari muka pintunya saja sudah menarik, berbagai cat berwarna cerah, ada gambar-gambar indah yang meskipun aneh tapi tampak bersemangat. Hanya satu kejanggalan yang kutemukan, Pintu itu memiliki kata sandi, tidak terdapat pada pintu-pintu yang lain. Pintu lain tampak normal, berwarna monoton, kadang sudah terbuka sehingga kelihatan isi ruangannya, ada juga yang tertutup namun tidak ada yang terkunci. Kita bebas mau mengintip dulu lihat isinya kalau suka boleh masuk secara sukarela. Pintu itu aneh.
Berulang setiap hari melewati pintu aneh itu aku menjadi semakin penasaran apa isi ruangan itu kok sampai terkunci dan diberi kata sandi? Kadang pikiran itu hanya datang sambil lalu, kadang kupikirkan lekat apakah besok aku harus mencobanya? Ah tidak sekarang bukan waktu yang tepat, aku sedang sibuk.
Suatu hari entah dirasuki apa aku pun tidak tahu suatu saat tanganku memegang gagang pintu itu! Kemudian sebuah petunjuk muncul, "Serahkan rasa malu dan berani salah". Inikah bayaran masuk kedalam ruang eksperimen? Tak perlu waktu lama pintu itu terbuka, terlalu gelap untuk mengintip perlu masuk untuk melihat lebih jelas. Saat masuk kedalam lampu terang menyala, menampakkan kekacauan dan kehebohan yang selalu kuhindari, kutemukan disini. Oh oh
Pintu itu tiba-tiba tertutup, muncul lagi sebuah pesan, "Selamat bersenang-senang!". Bagaimana caranya aku bersenang-senang ditengah kekacauan?! Pintu terkunci, aku tidak punya pilihan selain mencoba semua eksperimen yang ada. Apa boleh buat sudah kepalang basah. Coba saja.
Aku sudah lupa sejak kapan aku berada didalam ruang ini. Tidak ada kalender atau jam, tanpa penanda waktu rasanya seperti masuk ruang tanpa batas waktu. Sampai sekarang aku masih berada di dalam ruang eksperimen, masih banyak meja yang belum kucoba, masih banyak kesalahan yang belum kulalui. Semua berkat si pintu yang sudah mengambil rasa malu-ku. Aku menjadi orang yang malu-maluin dan tidak takut berbuat salah. Tidak apa, sepertinya si pintu masih senang melihat kebodohanku sehingga dia masih enggan membukakan pintu keluar atau karena aku masih belum seutuhnya bersenang-senang disini, seperti pesan terakhir yang kulihat dulu?
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES162 Homonim
Menurutku belajar bahasa indonesia cukup sulit. Tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding bahasa inggris. Apalagi kita, orang indonesia negara kepulauan, negara kesukuan. Memang keragaman ini melekat menjadi identitas kita.Nah aku jadi dapat ide menulis ringan seputar bahasa yang kita sering paka…

AES161 Refleksi Pagi di Festlit
Jujur saja saat dihadapkan dengan banyak pilihan kita akan lebih banyak bingung namun dengan sedikit atau bahkan tanpa pilihan kita menjadi resah juga artinya apapun kondisinya kita semua cenderung mengeluh. Begitukah manusia?Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Dari mulai bangun ti…

AES160 Pertanyaan Akhir Pekan
Izinkan aku bertanya satu pertanyaan pada penghujung akhir pekan ini.Apa yang membuatmu bahagia hari ini?Jika aku yang mendapat pertanyaan tersebut maka aku akan berpikir sejenak lalu memutar ulang singkat apa yang aku lakukan semenjak pagi hari tadi hingga sekarang pada saat mengetik, lalu aku aka…


