AES117 - Kenapa Pintunya Ditutup?
Sudah tiga hari kami menginap di rumah Pak Endro di Dusun Ngadiprono, Temanggung. Hari-hari berlalu dengan lambat. Matahari perlahan meresap lewat jendela, mencahayakan kembali langit gelap malam. Ayam berpetok-petok berbaris. Perjalanan pulang anak-anak setelah maghrib tersendat oleh riuh mereka bermain bola. Di sini, setiap berjalan ke luar rumah, kami disenyumi dan diangguk oleh semua orang. "Yang di rumah Pak Endro, ya?" "Monggo, mampir, minum teh!" "Pagi!"
Kemarin, ada yang bertanya, "kenapa pintunya selalu ditutup, dikunci?"
Di rumah, kami dibiasakan untuk selalu mengunci pintu dan jendela. Bahaya, takut ada yang masuk, merampok. Di sini, rumah yang ditutup pintunya adalah pertanda tidak ada orang di dalam. Kami dianjurkan untuk buka pintu agar siapapun bisa ikut masuk, berkunjung.
Anak-anak sering ikut main ke rumah kami. Tetangga datang menyapa pagi-pagi, mengingatkan kalau toren air sudah mudal, kalau tukang sayur keliling datang. Kami juga jadi lebih percaya diri masuk ke rumah tetangga. Kami selalu diundang untuk belajar menganyam, melihat kelinci.
Ngadiprono mengajak kami untuk ingat lagi untuk lambat, gotong royong, membuka pintu.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES131 - Desentralisasi Layar
Akhir-akhir ini aku menyadari seberapa banyak hidupku dihabiskan di depan layar bercahaya. Aku bangun tidur, merentangkan tangan ke samping ranjang, meraba HP dan melihat jam dan notifikasi hari itu. Aku sarapan sambil melihat HP, menjawab pesan, menonton video. Aku pergi ke tempat magangku dan men…

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…
