AES12 - Tadi Malam Aku Mimpi...

Tiap hari, aku selalu bercerita kepada ibuku tentang mimpiku malam sebelumnya. Kadang Ibu sampai bosan mendengar kalimat ‘tadi malam aku mimpi…’.
Mimpi-mimpiku panjang dan aneh, kadang memiliki semacam plot tertentu dan membentuk cerita. Setiap pagi, aku biasanya masih memiliki ingatan sedikit mengenai mimpi itu. Namun, aku baru bisa memahami alur dan detail-detail mimpi itu pada akhir hari.
Hal yang bagiku paling menarik dari mimpi-mimpi ini adalah setting-nya. Pada tiap mimpi baru, aku mengunjungi tempat-tempat yang sama dari mimpi-mimpi sebelumnya, namun membuka daerah-daerah baru. Rasanya seperti bermain game di mana ‘peta’ dunianya terbuka seiring dengan melewati tiap tingkatan permainan. Hanya saja, semua ini terjadi di dalam mimpi, saat sedang tidur. Anehnya, pula, tidak banyak tempat dalam mimpi-mimpiku yang berdasarkan pada tempat di dunia nyata.
Semua tempat-tempat di Dunia Mimpi ini konsisten. Di sini rumah temanku, di sana sekolah, di situ toko terkenal, di tempat lain bandara. Bahkan ada penjual pisang pinggir jalan yang tempatnya konsisten. Yang tidak konsisten hanya satu—rumahku sendiri di Dunia Mimpi. Terkadang bentuknya mirip rumahku di dunia nyata, terkadang bergaya kuno, terkadang bentuknya sama sekali beda.
Dunia Mimpi ini terbagi menjadi beberapa kota. Ada satu kota yang merupakan kota pusat, mungkin semacam ibu kota, tapi namanya tidak pernah disebut. Di sini, semua jalan tersusun rapi dan segalanya teratur dan sempurna. Ada beberapa kota yang merupakan ‘kota liburan’, bukan kota tempat aku tinggal di Dunia Mimpi. ‘Kota-kota liburan’ ini semua indah-indah. Ada satu ‘kota liburan’ di dekat pantai, ada yang di pedesaan. Jenis kota terakhir adalah ‘kota edukasi’, kota yang terkenal di Dunia Mimpi sebagai tempat beredukasi tinggi. Di kota inilah aku bersekolah.
Pada bulan-bulan tertentu, aku dan teman-teman sekelasku tinggal di kota ini. Di sini, ada Rumah Belajar Semi Palar. Berbeda dengan yang di dunia nyata, yang ini benar-benar bisa menjadi rumah kita sepanjang semester, karena bentuknya asrama. Tanahnya luas sekali, bangunannya ada beberapa. Bangunan asrama mirip kastil kuno, dengan banyak koridor berseliweran dan kamar-kamar kecil yang rapi. Bangunan kelasnya mirip sekali dengan bangunan Semi Palar yang nyata. Di Dunia Mimpi, Semi Palar memiliki lapangan rumput yang sangaaaat luas dan sepertinya ajaib. Bila berlari-lari di sini, kita tak akan pernah lelah. Ada juga perpustakaan ajaib, di mana tokoh dalam buku—termasuk buku non-fiksi—bisa hidup secara acak. Di salah satu mimpiku, kami bertemu Martin Luther King yang dua-dimensi dan hitam-putih.
Mimpi-mimpiku selalu seru, kadang bertualang, kadang liburan. Namun, mimpi-mimpi yang paling menyenangkan selalu mimpi-mimpi di sekolah. Mungkin karena sudah rindu, aku sering mimpi bertemu dengan teman-teman. Sering juga ada acara sesekolah, bersama kakak-kakak dan alumni, di mana kita berkegiatan di Dunia Mimpi.
Banyak yang bilang mimpi adalah keinginan terdalam kita. Menurutku, tak semua mimpiku merefleksikan keinginanku. Ada beberapa mimpi yang hanya merupakan petualangan imajinatif dan seru, namun tidak ada hubungannya dengan duniaku (selain tokoh-tokohnya). Namun, mimpi-mimpi lain bisa saja merupakan keinginan terdalam.
Komentar (2)
Masuk untuk ikut berkomentar.
Mungkin Kamu Juga Tertarik:

AES130 - MPLS 3: Mulai
Pagi-pagi kami Jabawaskita, pertama kali setelah sekian lama. Lalu kami lanjut ke kelas, mendengarkan penjelasan dari Kak Gina tentang sistem KPB: adaptif, otonom, bermanfaat, hal-hal yang sudah sering kami dapatkan di kelas-kelas sebelumnya. Ada juga daftar kualitas-kualitas yang ditargetkan untuk…

AES129 - MPLS Day 2: Konstan
Pagi ini kami berkumpul di basecamp. Banyak sekali yang telat datang. Tapi, ketika semua terkumpul, ruangan kelas terasa lebih penuh dibanding tahun lalu. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing dengan satu anak K10, untuk mendiskusikan makna KPB bagi kami. Kami diberi waktu 45 menit, tapi…

AES128 - MPLS 1: Mengapresiasi KPB
Aku sampai di Smipa pagi-pagi sebelum jam tujuh, berhalo-halo dengan beberapa orangtua dan anak kelas enam. Belum ada teman sekelasku yang datang. Aku menunggu dan mereka mulai muncul satu persatu. Hari pertama sekolah dibuka dengan upacara. Selepasnya, kami pergi ke kelas untuk mendengarkan penjel…

